Bayi Penderita Hydrocephalus di Kota Tasikmalaya Ini Tak Mampu Berobat

Bayi Penderita Hydrocephalus di Kota Tasikmalaya Ini Tak Mampu Berobat
Photo Credit To Alfarizky, bayi penderita Hydrocephalus warga Kota Tasikmalaya tak mampu berobat karena tidak miliki biaya, Selasa (14/11/2017). (Foto: Red)
Kaos Pilkada

JABAR NEWS | KOTA TASIKMALAYA – Saat ini, Tari Khaerunnissa orang tua dari bayi yang baru berusia 50 hari bernama Alfarizky hanya bisa pasrah. Ia tidak mampu untuk membawa anaknya yang menderita penyakit Hydrocephalus untuk berobat karena tidak memiliki biaya.

Diketahui, Tari Khaerunnissa merupakan warga Kampung Seladarma, Kelurahan Yudanagara, Kecamatan Cihideng, Kota Tasikmalaya.

Tari mengatakan ia terpaksa menghentikan upaya medis untuk pengobatan anaknya. Karena kondisi ekonomi keluarga tak sanggup menanggung biaya pengobatan di rumah sakit yang mencapai puluhan juta rupiah. Suaminya Dodi, hanya seorang buruh serabutan. Jangankan untuk biaya pengobatan, untuk sehari-hari saja kadang masih kewalahan.

“Kami punya BPJS, tapi katanya hanya bisa membantu sekitar 20% saja untuk semua biaya pengobatan. Saat ini BPJS tersebut sedang diurus untuk menjadi Kartu Indonesia Sehat (KIS),” kata Tari saat ditemui awak media, Selasa (14/11/2017).

Lebih lanjut Tari menceritakan, dari keterangan dokter penyakit Alfarizki adalah penyakit bawaan dari lahir. Hasil diagnosa, anaknya tengah mengalami masalah di bagian tulang ekor, dimana ada cairan keluar dari cincin yang ada di tulang ekornya.

“Kalau kata dokter anak saya harus segera mendapat perawatan. Sebab, jika tidak segera ditangani akan berdampak pada otaknya. Lama-kelamaan bisa mengalami penyakit Hydrocephalus,” ujarnya.

Ia menuturkan, saat ini Alfarizki hanya bisa terbaring di rumah dengan pengobatan seadanya. Sebab, pihak keluarga tidak mampu untuk menutupi biaya pengobatan yang mencapai Rp 20 jutaan. Belum lagi biaya-biaya yang tidak terduga.

“Pada awalnya kami sudah bawa ke RSUD dr Soekardjo, karena penuh lalu dirujuk ke RS Bunda Aisyah. Karena tidak ada ahli saraf maka dirujuk ke Bandung. Bingung tidak punya uang akhirnya sampai saat ini belum dibawa ke Bandung,” tuturnya.

Sebagai penutup Tari berharap ada donatur yang rela menyisihkan hartanya untuk membantu biaya pengobatan anaknya dan berharap bantuan dari Pemerintah Kota Tasikmalaya agar anaknya bisa sembuh. (Yud)

Jabar News | Berita Jawa Barat

Comments

comments

AHF

Related posts