Indahnya Hidup Bersama Al-Quran

Ada empat keuntungan yang akan kita peroleh bila berinteraksi dengan Al-Quran.

Ilustrasi. (Foto: Net)

Memahami Al-Quran

JABARNEWS | PURWAKARTA - Al-Quran adalah sumber kemuliaan. Siapapun yang menjadikan Al-Quran sebagai panduan hidup, maka tidak ada yang akan dia dapatkan selain kemuliaan. Hidup bersama Al-Quran adalah kenikmatan tiada tara. Lalu,Alquran adalah sumber kemuliaan. Siapapun yang menjadikan Al-Quran sebagai panduan hidup, maka tidak ada yang akan dia dapatkan selain kemuliaan. Namun, siapa pun yang berpaling dari tuntutan Al-Quran, maka Allah akan memberikan kesempitan dalam hidupnya.

Karena itu, syarat paling mendasar dalam berinteraksi dengan Al-Quran adalah bagaimana kita mampu menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidup sehari-hari. Syarat-syarat yang perlu dimiliki yaitu ilmu-ilmu yang berhubungan dengan Al-Quran, ilmu tersebut adalah dengan mengetahui bahasa Al-Quran dan memahaminya dengan baik.

Perlu kita ketahui untuk menghasilkan pemahaman Al-Quran yang lebih komprehensif dengan masalah-masalah kemanusiaan dan perkembangan zaman, perlu adanya kesungguhan dari para muslim untuk menguak ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Al-Quran serta membuka belenggu ketertinggalan dalam berpikir. Berusaha dan menjalankan manusia dari nilai-nilai agama. Ilmu-ilmu Al-Quran merupakan salah Satu ilmu yang dapat membantu dan membuka pikiran untuk dapat memahami Al-Quran dengan pikiran lapang dan kalbu yang mantap.

Ada empat keuntungan yang akan kita peroleh bila berinteraksi dengan Al-Quran.

Pertama, melahirkan jiwa yang sabar. Banyak kisah tentang cobaan berat yang menimpa para pejuang Islam. Mereka diintimidasi, disiksa, dipenjarakan, bahkan dibunuh. Namun kebersamaannya dengan Al-Quran membuat mereka menjadi orang-orang yang sangat tabah. 

Nadimah Khatul, seorang mujahidah Afghanistan, contohnya. Beliau dipenjarakan oleh kaum komunis selama enam tahun. Dan ia mengatakan, "Kami mengalami berbagai siksaan berat. Namun membaca dan mengkaji Al-Quran membantu kami bersabar dan bertahan menghadapinya". Itulah keagungan membaca Al-Quran menjadikan beliau tabah dalam menghadapi segala cobaan berat yang dihadapinya.

Kedua, melembutkan hati. Seorang ulama mengatakan, "Sesungguhnya hati itu mengkristal sebagaimana mengkristalnya besi, maka lembutkanlah ia dengan Al-Quran".

Ketiga, mengokohkan hati. Difirmankan, dan semua kisah Rasul-Rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu.

Keempat, sebagai nasihat dan obat tatkala hati sedih dan gundah. Allah SWT berfirman, Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu nasihat dari Tuhanmu dan obat bagi yang ada di dalam dada, petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Masih banyak sekali keuntungan-keuntangan yang terdapat di dalam Al-Quran, maka baca selalu ayat Al-Quran dan pahami ayat tersebut, hal ini tentu saja sangat penting bagi manusia karena tujuan utama Al-Quran tersebut adalah untuk menuntut kehidupan manusia ke jalan yang benar yang berujung pada tercapainya kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Hidup bersama Al-Quran adalah kenikmatan tiada tara. Langkah pertama adalah membacanya (tilawah). "Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab mereka senantiasa membacanya dengan sebenar-benarnya bacaan (haqqut tilawah), mereka itulah orang-orang yang beriman kepadanya.

Haqqut tilawah dalam ayat tersebut adalah berfungsinya lisan, akal, dan hati ketika melantunkan Al-Quran. Lisan berfungsi dengan baik ketika mampu mengartikannya. Berfungsinya akal adalah dengan memahami isi ayat yang dilantunkan. Sedangkan berfungsinya hati adalah dengan merenungkan nasihat-nasihat yang terkandung di dalamnya sehingga dapat menyentuh hati kita dan apa yang kita ketahui dalam bacaan-bacaan tersebut. 

Perlu kita ketahui agar bisa memahami dan mengerti bacaan Al-Quran diperlukan satu upaya yang disebut dengan tafsir, pengetahuan yang membahas tentang maksud-maksud Allah dalam Al-Quran sesuai dengan kemampuan manusia yang didukung dengan berbagai disiplin ilmu untuk membantu memahami maksud-maksud Allah tersebut.

Dikisahkan, Imam Rafi'i bin Mahran pernah menderita penyakit akalah, yaitu sejenis tumor tulang pada bagian lutut. Satu-satunya cara untuk menghilangkan penyakit tersebut adalah dengan mengamputasi kaki. Waktu itu dokter menawarkan untuk meredam rasa sakit tatkala proses amputasi dilakukan. Tapi Imam Rafi'i menolak dan ia mengatakan, 

"Aku punya obat yang lebih mujarab dari apa yang engkau tawarkan kepadaku. Datangkan saja kepada saya seorang qari."Selanjutnya ia berkata, "Dokter, apabila ayat Al-Quran tengah dilantunkan dan anda melihat muka saya memerah dan mata saya terbelalak, itulah saat yang tepat untuk memotong kaki saya".

Ketika qari melantunkan ayat-ayat Al-Quran, memerahlah muka serta terbelalaklah mata Imam Rafi'i. Khususnya saat ia mendengar ayat yang berisi peringatan serta ancaman Allah SWT, Imam Rafi'i merasakan seolah-olah ancaman itu ditujukan pada dirinya. Saat itulah dokter mulai memotong urat-urat serta menggergaji tulang kaki karena sebelum kakinya dipotong Rafi meminta kepada dokter agar memotong pada saat mukanya mulai memerah dan matanya terbelalak maka dokter memulai proses amputasi.  

Subhanallah, tidak terdengar satu pun keluhan yang keluar dari mulut lelaki saleh ini. Dokter pun merasa aneh tatkala Rafi tidak merasakan kesakitan setelah proses amputasi yang dilakukan, sebaliknya dia sangat baik-baik saja. Sungguh besar Maha Suci Allah hanya mendengar ayat suci Al-Quran dapat membantu segala kesulitan yang di hadapi.

Setelah membaca, interaksi seorang Muslim dengan Al-Quran adalah mengkaji serta memahaminya. Hal ini tidak terlepas dari fungsi Al-Quran sebagai pedoman hidup bagi manusia yang menghendaki kebahagiaan, baik di dunia lebih- lebih lagi di akhirat. 

Seluruh ajaran Islam pada prinsipnya telah tertuang dalam kitab suci ini. Namun demikian, pemahaman terhadap isi yang dikandungnya tidaklah semudah orang memahami isi bacaan kitab-kitab atau buku-buku selainnya. Karena Al-Quran berfungsi sangat vital bagi manusia itu penuh pesan-pesan.

Secara redaksional, tidak semua kosa kata dalam Al-Quran dapat dipahami dengan tepat oleh para sahabat Nabi, padahal mereka adalah orang arab asli yang langsung menerima Al-Quran yang berbahasa arab dari Nabi Muhammad SAW. Dan menyaksikan situasi serta kondisi yang melatarbelakangi turunnya ayat-ayat Al-Quran tersebut.

Akibatnya, kita tidak bisa merealisasikan fungsi Al-Quran sebagai petunjuk bila Al-quran hanya dibaca saja. Karena itu, memahami Al-Quran secara baik dan benar menjadi kewajiban seorang Muslim agar bisa memahami dan mengetahui isi-isi bacaan dalam Al-Quran, seperti yang dialami oleh Imam Rafi’i dalam menghadapi proses amputasi dengan mendengarkan ayat suci Al-Quran saja dan memahaminya sehingga proses amutasi tersebut berjalan dengan lancar.

Hal tersebut dapat kita ketahui indahnya hidup bersama Al-Quran jika kita mengetahui dan memahami bacaan-bacaan tersebut hati kita akan terasa tenang dan hidup kita akan bahagia. Dengan berbagai masalah atau cobaan yang akan dihadapi maka dengan membaca Al-Quran dapat membantu dalam meghadapi cobaan tersebut, serta hati dan pikiran akan terasa lebih tenang.

Ada beberapa syarat yang ditetapkan para ulama agar tidak terjadi penyimpangan dalam menafsirkan Al-Quran, di antaranya:

1. Memiliki akidah yang benar.

2. Bersih dari hawa nafsu.

3. Adil.

4. Memiliki pengetahuan bahasa Arab. Sebab, Allah SWT menurunkan Alquran dalam bahasa Arab.

5. Menguasai ilmu-ilmu Al-Quran

Memahami Al-Quran

Pertama, memahami Al-Quran dengan Al-Quran itu sendiri (tafsir quran bil quran). Sesungguhnya Al-Quran merupakan penjelas yang membenarkan satu bagian dengan bagian lainnya. Rasulullah SAW bersabda, "Sementara Allah menurunkan kitab-Nya untuk saling membenarkan satu sama lain." (HR Bukhari).

Contoh ayat yang ditafsirkan dengan ayat lain: Dalam QS Al-Fatihah [1] ayat 7, "(yaitu) orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat kepada mereka." Dalam ayat ini tidak dijelaskan siapa orang-orang yang diberikan nikmat itu. Maka Allah SWT menjelaskan dalam QS An-Nisa [4] ayat 69, "Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya) mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah sebaik-baik teman."

Kedua, memahami Al-Quran dengan Sunah Nabi yang shahih. Ibnu Taimiyyah berkata, "Cara yang paling shahih dalam memahami Al-Quran adalah menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran. Jika engkau tidak menemukan itu maka engkau mengambil sunnah, karena ia adalah penjelas Al-Quran". 

Imam Syafi'i mengatakan bahwa seluruh apa yang dihukumkan oleh Rasulullah SAW adalah dari apa yang beliau dapat dari Al-Quran. Contoh pemahaman Al-Quran dengan sunah: dalam Al-Quran ada beberapa ayat yang memerintahkan shalat. Namun, penjelasan bagaimana melakukan shalat hanya akan kita temukan dalam sunnah. Rasulullah SAW bersabda, "Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat."

Ketiga, memahami Al-Quran dengan pemahaman para sahabat dan tabi'in. Imam Ibnu Taimiyyah mengatakan, "Jika engkau tidak menemukan tafsir dalam satu ayat Alquran, tidak juga dalam sunah, maka engkau harus mencarinya dalam perkataan para sahabat. Mereka paling mengetahui hal itu, sebab mereka melihat (qarain) situasi yang terjadi pada saat Al-Quran itu diturunkan. Ditambah dengan ketinggian kemampuan bahasa dan kejernihan pemahaman mereka."

Keempat, agar dapat memahami Al-Quran sebagai pedoman hidup yang disampaikan oleh Nabi, Sahabat dan Tabi’in dan para Mufassir

Kelima, agar dapat mengetahui cara dan gaya serta metode para mufassir dalam menafsirkan Al-Quran, sehingga dapat memilih yang paling baik, paling benar, dan paling cocok dengan situasi dan kondisi. 

Hal ini akan dialami metode dan pendekatan para ulama tafsir dalam menafsirkan Al-Quran. Contoh, pemahaman mereka terhadap kalimat "jalan yang lurus" Maksudnya adalah Islam atau Al-Quran atau sunnah Nabi atau sunah Khulafaur Rasyidin.

Pemahaman yang benar terhadap Al-Quran akan melahirkan sikap yang benar, dan menambah ilmu-ilmu yang berhubungan dengan Al-Quran, ilmu yang dapat membantu dan membuka pikiran serta memahami Al-Quran dengan benar. 

Pemahaman tersebut perlu diketahui dengan diperlukannya suatu penafsiran  yang tidak hanya mengandalkan penguasaan bahasa arab secara baik, melainkan perlu pula pengetahuan yang mendalam tentang ilmu-ilmu yang berhubungan dengan penafsiran Al-Quran itu sendiri dan kaidah-kaidah dari ilmu-ilmu tersebut.

Keindahan bahasa Al-Quran tidak ada yang menandingi kebilagahannya dan keindahan kata-katanya, sehingga otak manusia tidak akan bisa menyetaknya, apalagi meniru sehingga itu semua menambah keyakinan dan keimanan kita kepada sang penciptanya yaitu Allah SWT.

Bagi orang yang beriman ketika Al-Quran dibacakan maka akan tersentuh hatinya bahkan telah banyak orang-orang kafir yang beriman karena lantunan Al-Quran yang indah, misalnya: sahabat Rasul yaitu Saidina Umar, ia beriman karena Al-Quran yang dibacakan oleh saudaranya.

Begitu banyak pula kandungan Al-Quran yang menerangkan tentang proses kehidupan baik yang sudah di alami maupun yang akan di alami. Dengan demikian kita sebagai manusia yang sedang mengalami kehidupan sudah jelas semua resep kehidupan sudah ada di dalam Al-Quran, tinggal bagaimana kita menggalinya  dalam setiap langkah di kehidupan kita.

  • Daftar Pustaka
  • Anwar, M.Ag, Dr. Abu. Ulumul Quran, Jakarta: PENERBIT  AMZAH,  2002.
  • Adam KH. Drs. Muchtar .Study Perkembangan Ilmu-Ilmu AL-Quran, Bandung: PENERBIT MAKRIFAT MEDIA UTAMA, 2010.

  • Disusun oleh:
  • Nama: Irwan Supriatna
  • Mahaiswa: STAI DR.KHEZ Muttaqien Purwakarta
  • Kelas: 1 D (Semester 1)

Al-Qur'an Indahnya Hidup Keuntungan