• Minggu, 24 Oktober 2021

Dedi Mulyadi Menangis saat Telepon Akbar, Ini Sebabnya

- Jumat, 6 November 2020 | 07:37 WIB
Dedi Mulyadi tengah berkomunikasi dengan Akbar via telepon selular. (Foto: Dok. Dedi Mulyadi)
Dedi Mulyadi tengah berkomunikasi dengan Akbar via telepon selular. (Foto: Dok. Dedi Mulyadi)

JABARNEWS | BANDUNG - Anggota DPR RI Dedi Mulyadi tak tahan menangis ketika mendengar kisah kehidupan Muhammad Ghifari Akbar, pemulung berusia 16 tahun yang tepergok sedang mengaji di sela berteduh dari hujan di emperan toko di Braga, Kota Bandung.

Foto remaja yang akrab disapa Akbar pun menjadi viral di media sosial dan mengundang simpati banyak orang.

Melalui sambungan telepon, Kamis (5/11/2020), Dedi mengatakan ia menelepon Akbar dan langsung berbicara dengannya selama 20 menit. Dedi pun mendengarkan kisah kehidupan Akbar langsung dari remaja tersebut.

"Saya tak tahan menangis mendengar cerita Akbar. Saya sekitar 20 menit berbicara dengan Akbar melalui telepon," kata Dedi.

Dedi menaruh simpati dan empati kepada Akbar karena kisah kehidupannya sangat menggugah.

Ada satu hal yang menarik dari kisah Akbar itu yang ditangkap Dedi, yakni meski dalam keadaan susah, remaja itu tetap memiliki empati kepada orang lain yang lebih susah.

"Dia selalu memberi pada pemulung lain yang susah. Sifat seperti itu jarang. Dia sendiri memiliki kesusahan, tapi punya empati lagi pada orang yang lebih susah," kata Dedi.

Tentu saja ada kisah lain dari Akbar yang juga sangat mengharukan. Ia bertahun-tahun mencari ibunya sambil memulung sampah. Kemudian Akbar tidak lepas dari sarung dan Al Quran. Menurut Dedi, sikap-sikap Akbar ini patut diteladani.

Dedi pun mengundang Akbar ke kediamannya di Purwakarta, Kamis hari ini. Dedi memiliki sejumlah rencana bagi Akbar.

Pertama, Akbar bercita-cita ingin mendirikan pesantren. Dedi pun akan memberi ruang untuk memenuhi keinginan itu, yakni dengan memberi tugas mengajar ngaji pada anak-anak di Subang. Sambil mengaji, Akbar juga akan dididik lagi, terutama untuk pendalaman kitab-kitab kuning.

"Saya akan panggil guru untuk meningkatkan pendalaman kitab. Sebenarnya Akbar itu sudah bisa membaca dan memahami sejumlah kitab kuning, tapi perlu dididik kembali sehingga kualifikasinya meningkat," kata Dedi.

Selanjutnya, Dedi juga akan memberi pekerjaan kepada Akbar untuk mengelola bank sampah di Subang. Dedi mengaku dirinya memiliki bank sampah.

"Kan dia kerjanya pungut sampah. Itu tidak boleh hilang. Dia konsen pada sampah dan kelola sampah. Dia akan menjadi direktur bank sampah di Lembur Pakuan (Subang)," kata mantan bupati Purwakarta itu.

Selain itu, Dedi juga menyiapkan bantuan modal untuk orangtuanya Rp 10 juta. Sehingga ketika ditinggalkan Akbar, orangtuanya bisa menjadi wirausahawan.

Sebelumnya diberitakan, Muhammad Ghifari Akbar menjadi terkenal setelah fotonya sedang mengaji di sela berteduh di emperan toko viral di media sosial. Remaja asal Garut itu setiap hari memulung sampah sambil mencari ibunya yang sudah meninggalkannya sejak usia 8 bulan.

Dengan berbekal sarung dan Al Quran, Akbar kerap melancong ke sejumlah daerah untuk menemukan perempuan yang sudah melahirkannya. Namun hingga saat ini sang ibu belum ditemukan juga. Akbar pun pasrah dan tetap berharap sang ibu menemui dirinya. (Red)

Editor: Muhammad Rizal

Tags

Terkini

X