• Selasa, 28 September 2021

Partai Demokrat Kubu Moeldoko Tuding SBY dan AHY Tirani dan Otoritarian

- Kamis, 25 Maret 2021 | 22:45 WIB
Juru Bicara Partai Demokrat versi KLB, Muhammad Rahmad saat jumpa pers di Hambalang, Kabupaten Bogor, Kamis (25/3/2021). (Foto: Antara/M Fikri Setiawan)
Juru Bicara Partai Demokrat versi KLB, Muhammad Rahmad saat jumpa pers di Hambalang, Kabupaten Bogor, Kamis (25/3/2021). (Foto: Antara/M Fikri Setiawan)

JABARNEWS | BOGOR - Partai Demokrat versi Kongres Luar Biasa (KLB) menuding Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) tirani dan otoritarian.

Tudingan Partai Demokrat pimpinan Moeldoko itu mengemuka dalam jumpa pers yang digelar di lokasi proyek Wisma Atlet Hambalang, Citeureup, Kabupaten Bogor, Kamis (25/3/2021).

"Partai yang mengarah kepada tirani, otoritarian dan 'keluargais' yang dilakukan SBY dan AHY harus diakhiri," kata Juru Bicara Partai Demokrat versi KLB, Muhammad Rahmad saat jumpa pers.

"Ini adalah bencana yang luar biasa bagi pembangunan demokrasi pasca-reformasi di Indonesia," sambung Muhammad Rahmad, seperti dilansir Antara.

Menurut dia, KLB Partai Demokrat di Deli Serdang yang menetapkan Moeldoko sebagai Ketua Umum Partai Demokrat akan mengembalikan partai berlambang bintang mercy menjadi partai yang terbuka, demokratis, modern, dan santun.

"Bapak Moeldoko memiliki komitmen untuk menghapus ketentuan-ketentuan yang memberatkan kader dan memberikan rewards atau penghargaan kepada kader yang berjasa kepada partai," ujarnya pula.

Politisi Partai Demokrat versi KLB, Max Sopacua mengungkap alasan kubunya menggelar jumpa pers di lokasi proyek Wisma Atlet Hambalang, yaitu untuk mengingat kembali masa lalu.

"Kenapa Demokrat KLB ini di Hambalang. Tempat inilah, proyek inilah yang menjadi salah satu bagian yang merontokkan elektabilitas Demokrat ketika peristiwa-peristiwa itu terjadi," ujar Max saat jumpa pers.

Menurutnya, sejak diusutnya kasus korupsi megaproyek senilai Rp2,5 triliun itu oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), elektabilitas Partai Demokrat terus turun karena menyeret para petinggi partai.

"Hambalang bagian dari sejarah yang menentukan yang menyebabkan Demokrat turun mulai 20,4 persen menjadi 10,2 persen dan 7,3 persen. Itu berturut-turut. Saya adalah pelaku sejarah," ujarnya pula.

Ia menuding, masih ada beberapa oknum kader Partai Demokrat yang turut menikmati hasil korupsi Hambalang, tapi hingga kini belum diproses hukum.

"Sebagian besar kawan kami yang terlibat sudah menderita, sudah dimasukkan ke tempat yang harus dimasukkan karena kesalahan, tetapi ada yang tidak tersentuh hukum yang juga menikmati hasil dari pembangunan ini, sampai hari ini belum. Mudah-mudahan segera ya," katanya lagi. (Red)

Editor: Yoyo W

Tags

Terkini

DPC PPP Purwakarta Bakal Gelar Muscab, Siapa Calonnya?

Senin, 27 September 2021 | 19:24 WIB
X