• Selasa, 19 Oktober 2021

Pakaian Adat Suku Baduy Diapresiasi Jokowi, Begini Filosofinya

- Senin, 16 Agustus 2021 | 19:45 WIB
Pakaian adat Suku Baduy. (Foto: Istimewa)
Pakaian adat Suku Baduy. (Foto: Istimewa)

JABARNEWS | BANDUNG - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengenakan pakaian adat Suku Baduy saat menghadiri sidang tahunan MPR 2021, Senin (16/8/2021).

Jokowi tidak hanya mengapresiasi keluhuran nilai-nilai adat dan budaya suku Baduy, namun juga menangkal stigma negatif terhadap Suku Baduy

Deputi II Kantor Staf Presiden (KSP) Bidang Pembangunan Manusia, Abetnego Tarigan mengatakan, Jokowi telah mengangkat budaya suku Baduy ke tingkat paling tinggi di salah satu acara kenegaraan.

“Hal ini dapat dimaknai sebagai cara presiden untuk menghentikan stigma dan makna negatif dari penyebutan suku Baduy,” kata Abetnego Tarigan, dalam keterangannya.

Dia menjelaskan, langkah Jokowi menggunakan pakaian adat dan mengangkat kebudayaan suku Baduy dalam acara kenegaraan merupakan suatu inisiatif yang baik.

Hal itu, kata Abetnego Tarigan, menjadi upaya Jokowi dalam menekankan kebhinekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Presiden Jokowi dalam menyampaikan pidato kepresidenan saat sidang tahunan MPR 2021 tampak mengenakan pakaian adat Suku Baduy berwarna hitam dengan lencana merah putih. 

Jokowi juga mengenakan udeng kepala berwarna biru, alas kaki sandal berwarna hitam lengkap dengan tas rajut berwarna coklat. 

"Pakaian adat ini disiapkan secara pribadi oleh Tetua Adat Masyarakat Baduy sekaligus Kepala Desa Kanekes, Jaro Saija," katanya. 

Presiden Jokowi pun mengatakan bahwa desain pakaian adat Baduy sangat sederhana dan sangat nyaman untuk dikenakan. 

Sebutan "Baduy" sendiri merupakan sebutan yang disematkan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat adat sub-Sunda yang tinggal di wilayah Lebak, Banten.

Namun, penyebutan Suku Baduy cenderung mengarah pada makna peyorasi karena kaitan sejarahnya sebagai produk era kolonial Belanda. 

Para kolonial secara gegabah mengidentifikasi suku Baduy layaknya suku Badawi di tanah Arab yang hidup secara nomaden dan dianggap liar. 

Walaupun kelompok masyarakat ini menyebut dirinya sebagai Urang Kanekes, dalam perkembangannya, istilah Baduy kini tidak lagi bersifat peyoratif, karena penyebutannya oleh banyak orang tanpa ada niatan untuk merendahkan.

“Istilah Baduy dilekatkan pada mereka oleh orang luar dan terus berlanjut sampai sekarang. Tapi saya pun kadang pakai istilah 'Baduy' karena sangat sering digunakan dan tidak dengan maksud merendahkan,” ungkap Hilman Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek). (Red)

Editor: Yoyo W

Tags

Terkini

Ada Masalah? Lapor Cak Imin Aja! Dapat Mobil Loh

Minggu, 17 Oktober 2021 | 13:41 WIB
X