Daerah

Dari 300 ke 1.100 Porsi: Cara Bekangdam III/Siliwangi Menopang Pengungsi Longsor Cisarua

×

Dari 300 ke 1.100 Porsi: Cara Bekangdam III/Siliwangi Menopang Pengungsi Longsor Cisarua

Sebarkan artikel ini
Dari 300 ke 1.100 Porsi: Cara Bekangdam III/Siliwangi Menopang Pengungsi Longsor Cisarua
Kepala Bekangdam III/Siliwangi, Kolonel Cba Faryan Noversyah P.P.Y., saat menjadi narasumber dalam Basa Basi Podcast PWI Kota Bandung, membahas respons cepat TNI dalam penanganan bencana.

JABARNEWS | BANDUNG – Operasi kemanusiaan pascalongsor di Cisarua tidak hanya bergantung pada evakuasi, tetapi juga pada kesiapan logistik. Di titik inilah peran Bekangdam III/Siliwangi menjadi krusial, memastikan kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi sejak hari pertama bencana.

Kepala Bekangdam III/Siliwangi Kolonel Cba Faryan Noversyah P.P.Y., S.Sos., CHMRP., mengungkapkan bahwa satuannya bergerak segera setelah menerima arahan langsung dari Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Kosasih. Pernyataan itu ia sampaikan saat menjadi narasumber Basa Basi Podcast PWI Kota Bandung, Jumat (30/1/2026).

Dengan prinsip kerja total dan tuntas, Bekangdam langsung menggelar fasilitas darurat serta dukungan hidup bagi warga terdampak dan tim penyelamat.

Logistik dan Fasilitas Darurat Sejak Hari Pertama

Setibanya di lokasi bencana, Bekangdam menyiapkan sejumlah fasilitas penting. Mulai dari posko lapangan sebagai pusat komando dan tempat tinggal sementara, dapur umum lapangan, hingga fasilitas MCK untuk menjaga sanitasi pengungsi.

Baca Juga:  Diduga Peras Kades di Purwakarta, Empat Oknum Wartawan Diamankan Polisi

“Kami membawa bekal dari home base untuk kebutuhan awal sekitar tiga sampai lima hari. Kami antisipasi jika akses logistik di lokasi terganggu,” kata Faryan.

angkah tersebut dilakukan untuk memastikan operasi kemanusiaan tidak terhambat pada fase awal penanganan.

Dapur Umum Adaptif, Produksi Hingga 1.100 Porsi

Dapur umum Bekangdam III/Siliwangi menunjukkan kemampuan adaptasi yang signifikan. Dengan dukungan sekitar 50 personel, dapur lapangan mampu memproduksi hingga 500 porsi dalam satu kali proses memasak.

Jumlah porsi terus disesuaikan mengikuti perkembangan data pengungsi yang dihimpun melalui koordinasi dengan Kodim setempat.

Baca Juga:  Duh! Dalam Sehari Ada 12 Laporan Tanah Longsor di Ciamis

“Di hari pertama kami siapkan 300 porsi. Hari kedua naik menjadi 600 porsi. Bahkan sempat mencapai 1.100 porsi per hari,” ujar Faryan.

Manajemen Personel dan Menu Bergizi

Produksi makanan dalam skala besar ditopang oleh pembagian tugas yang jelas. Personel dapur dibagi ke dalam tim pengolahan bahan, memasak, pengemasan, hingga distribusi.

“Personel kami memang sudah terlatih. Menu apa pun siap mereka masak,” tegas Faryan.

Beberapa menu yang disajikan kepada pengungsi antara lain sapi lada hitam dan ayam rica-rica, dengan bahan baku yang berasal dari bantuan Dinas Sosial.

Cuaca Ekstrem dan Sinergi Lintas Lembaga

Tantangan utama di lapangan datang dari kondisi cuaca. Hujan yang turun hampir setiap hari membuat lingkungan lembap dan menuntut perhatian ekstra terhadap kualitas makanan.

Baca Juga:  BPBD Jabar Kirim Tim untuk Tangani Banjir Karawang dan Longsor Purwakarta

“Kondisi basah dan hujan terus-menerus membuat kami harus lebih ketat menjaga kebersihan dan keamanan pangan,” jelas Faryan.

Selain itu, tim juga menyesuaikan tingkat kepedasan makanan demi menjaga kesehatan pengungsi, termasuk anak-anak dan lansia.

Memasuki hari keenam operasi, Faryan memastikan tidak ada hambatan berarti yang tidak dapat diatasi. Ia menekankan kuatnya kerja sama antarunsur di lapangan, mulai dari TNI, Basarnas, hingga berbagai organisasi kemanusiaan.

“Semua saling mendukung sesuai peran masing-masing. Itulah kunci penanganan darurat bencana,” pungkasnya.(Red)