JABARNEWS| BANDUNG – Menjelang Musyawarah Daerah (Musda) ITLA (Indonesia Tour Leader Associatuon) Jabar 22 Februari 2026, kandidat Ketua ITLA Jabar, Nico Darmawan Effendi, menegaskan pentingnya kolaborasi strategis dengan berbagai asosiasi dan pemangku kepentingan pariwisata di Jawa Barat.
Ia mendorong sinergi bersama ASITA, ASTINDO, IKA NHI Bandung, serta asosiasi profesi seperti PTLB dan HPI guna memperkuat ekosistem pariwisata sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia Tour Leader di Bandung dan Jawa Barat.
Inhouse Tour Leader Bukan Kompetitor
Nico yang juga sebagai Dewan Pengawas ITLA Jabar menegaskan bahwa keberadaan Inhouse Tour Leader dari berbagai stakeholder pariwisata bukanlah kompetitor, melainkan mitra strategis yang perlu dirangkul.
Menurutnya, kolaborasi tersebut tidak hanya memperkuat promosi destinasi unggulan. Lebih jauh, kerja sama itu membangun ekosistem pariwisata Jawa Barat yang solid dan berkelanjutan.
Nico juga menegaskan posisi Inhouse Tour Leader dari para stakeholder. Ia menilai mereka bukan kompetitor profesi. Sebaliknya, mereka adalah mitra strategis yang harus dirangkul.
“Tujuan berkolaborasi dengan asosiasi rekanan seperti PTLB dan HPI ialah untuk bersama-sama belajar dan menaikan kualitas Pemimpin Perjalanan sehingga tujuan akhir sebagai ujung tombak industri menjadi sempurna dan memberikan hasil maksimal bagi stakeholder,” ujar Nico kepada JABARNEWS.COM, Kamis (19/2/2026).
Ia menambahkan, ITLA Jabar sebagai asosiasi profesi yang diakui pemerintah memahami standar kompetensi. Karena itu, organisasi memiliki misi berbagi ilmu kepada Pemimpin Perjalanan Inhouse.
Secara tidak langsung, ia menyampaikan bahwa pendekatan ini membuka peluang memperluas jejaring sekaligus meningkatkan kualitas layanan wisata di Jawa Barat.
Sertifikasi BNSP Jadi Prioritas Utama
Selain kolaborasi, Nico menempatkan peningkatan kompetensi sebagai program prioritas 2026–2030. Fokus utamanya adalah sertifikasi Tour Leader sesuai regulasi pemerintah.
ITLA Jabar akan menyelenggarakan sertifikasi secara berkala. Tujuannya jelas. Seluruh anggota harus memiliki lisensi BNSP yang valid dan terverifikasi.
Langkah ini lanjut Nico penting. Sebab, legalitas dan standar kompetensi menjadi fondasi profesi Tour Leader di tengah dinamika industri pariwisata.
Dengan demikian, ITLA Jabar ingin memastikan setiap pemimpin perjalanan memiliki kapasitas profesional yang terukur dan diakui negara.
Konsolidasi Organisasi dan Perluasan Keanggotaan
Di sisi internal, Nico menilai Musda menjadi momentum konsolidasi. Ia ingin menyatukan kembali komitmen anggota pasca-pemilihan.
Penguatan fondasi organisasi menjadi agenda mendesak. Peran aktif anggota di seluruh wilayah Jawa Barat harus dihidupkan kembali.
Selain itu, ITLA Jabar akan membuka pendaftaran anggota baru. Strategi ini bertujuan memperluas jejaring sekaligus memperkuat representasi profesi di daerah.
Dengan basis keanggotaan yang solid, organisasi diharapkan mampu menjadi rujukan standar kompetensi Tour Leader di tingkat regional.
Standar Keamanan Wisata dan Digitalisasi Organisasi
Nico juga menyoroti isu keamanan dan keselamatan wisata. Ia menyatakan ITLA Jabar akan berperan aktif mendorong kebijakan keamanan dan standar keselamatan tinggi.
Fokus ini mencakup regulasi kegiatan study tour dan perjalanan wisata. Menurutnya, aspek keselamatan tidak boleh diabaikan.
Selanjutnya, organisasi akan mengoptimalkan teknologi. ITLA Jabar merancang sistem kartu anggota digital dan portal website terintegrasi.
Digitalisasi ini mempermudah verifikasi dan pendataan anggota. Selain itu, sistem tersebut memperkuat transparansi organisasi.
Pelatihan Teknis hingga Ekspansi Internasional
Dalam bidang pengembangan kapasitas, ITLA Jabar menyiapkan sejumlah program teknis. Di antaranya workshop dan webinar Basic serta Intermediate Tour Leader.
Kemudian, pelatihan SOP keselamatan dan emergency handling juga masuk agenda utama. Program destination sharing turut disiapkan untuk memperkaya wawasan anggota.
Tidak berhenti di situ, ITLA Jabar akan menggandeng Bea Cukai dan Direktorat Jenderal Imigrasi. Sosialisasi kepabeanan dan regulasi perjalanan menjadi bagian penting edukasi anggota.
Lebih jauh lagi, organisasi merencanakan pelatihan Tour Leader ke Asia, China, dan Eropa. Kerja sama dengan operator di negara tujuan akan mendukung program tersebut.
Langkah ini menunjukkan orientasi global. ITLA Jabar ingin menyiapkan Tour Leader yang mampu bersaing di pasar internasional.
Solidaritas Komunitas Jadi Penguat Organisasi
Di luar agenda formal, ITLA Jabar tetap memperhatikan aspek kebersamaan. Kegiatan family gathering dan olahraga seperti bersepeda akan digelar secara berkala.
Kegiatan ini bertujuan mempererat solidaritas komunitas. Sebab, kekompakan menjadi modal sosial penting dalam organisasi profesi.
Dengan visi “Membina, Mengayomi, dan Mensejahterakan Profesi Tour Leader di Kota Bandung dan Jawa Barat”, Nico menegaskan arah kepemimpinan berbasis kolaborasi dan peningkatan mutu.
Musda 22 Februari 2026 menjadi titik krusial. Arah kebijakan ITLA Jabar lima tahun ke depan akan ditentukan melalui forum tersebut.
Menurutnya, ITLA Jabar sebagai asosiasi profesi yang diakui pemerintah memiliki tanggung jawab berbagi standar kompetensi dan peningkatan kapasitas, sehingga seluruh pemimpin perjalanan dapat tumbuh bersama dan memberikan layanan maksimal bagi industri pariwisata. (Robby)





