Daerah

Hunian Hotel Bandung Turun, Pajak Tetap Naik; Event Disiapkan Dongkrak Okupansi

×

Hunian Hotel Bandung Turun, Pajak Tetap Naik; Event Disiapkan Dongkrak Okupansi

Sebarkan artikel ini
Hunian Hotel Bandung Turun, Pajak Tetap Naik; Event Disiapkan Dongkrak Okupansi
Aktivitas pertandingan Persib Bandung yang dinilai menjadi salah satu penggerak ekonomi dan okupansi hotel di Kota Bandung.

JABARNEWS | BANDUNG – Tingkat hunian hotel di Kota Bandung mengalami penurunan, terutama pada segmen non-bintang. Namun di tengah tren tersebut, penerimaan pajak hotel justru tetap meningkat. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyebut kenaikan tarif kamar dan dominasi hotel berbintang menjadi faktor utama terjaganya kontribusi pajak daerah. Pemerintah Kota Bandung kini menyiapkan program pembinaan bagi hotel non-bintang, sekaligus mendorong optimalisasi pelaporan pajak agar sektor perhotelan tetap kompetitif dan patuh regulasi.

Hotel Non-Bintang Jadi Fokus Pembinaan

Meski pajak hotel meningkat, tantangan di lapangan tetap ada. Hotel non-bintang mencatat okupansi lebih rendah dibanding hotel berbintang.

Farhan tidak menutup kemungkinan ada pelaku usaha yang belum optimal dalam pelaporan pajak. Karena itu, Pemkot mendorong transparansi administrasi.

“Kalau mereka melapor, ada banyak bantuan yang bisa kita berikan,” katanya.

Program pembinaan akan mencakup dukungan pengelolaan sampah dan air limbah secara mandiri. Langkah ini diharapkan meningkatkan efisiensi operasional sekaligus kepatuhan regulasi.

Event dan Olahraga Jadi Penggerak Hunian

Di sisi lain, Pemkot Bandung tidak tinggal diam. Pemerintah menyiapkan strategi jangka menengah untuk mengangkat kembali okupansi hotel. Salah satunya melalui penguatan ekosistem wisata berbasis event.

Baca Juga:  Wali Kota Bandung Lantik 173 Pejabat, Farhan Tekankan Integritas sebagai Fondasi Birokrasi Modern

Festival, pertunjukan, hingga agenda olahraga akan diperbanyak. Kota Bandung hampir pasti menjadi tuan rumah Pekan Paralimpik Daerah dan pendukung Pekan Olahraga Provinsi.

Farhan menilai perputaran ekonomi sangat dipengaruhi aktivitas publik. “Ekonomi itu berputar dari event-event. Persib ramai, Satria Muda ramai. Itu jadi motor ekonomi,” ujarnya.

Popularitas Persib Bandung dan Satria Muda Pertamina Jakarta dinilai memberi efek berganda. Sektor kuliner, transportasi, hingga perhotelan ikut terdorong. Karena itu, strategi event diproyeksikan menjadi katalis pemulihan okupansi.

Tapi PAD Melonjak, Restoran Jadi Tulang Punggung

Sementara itu, kinerja Pendapatan Asli Daerah (PAD) menunjukkan tren positif. Kenaikan tercatat di atas 15 persen.

Sektor restoran menjadi penyumbang utama. Kepatuhan pajak 10 persen dinilai semakin membaik.

“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para pengelola restoran yang telah patuh membayar pajak 10 persen,” kata Farhan.

Menurut dia, kepatuhan ini memperkuat struktur fiskal daerah. PAD menjadi fondasi pembiayaan pembangunan, khususnya infrastruktur dan layanan publik.

Baca Juga:  Keren... Pelajar di Ujung Barat Purwakarta Diajarkan Membuat Kerajinan dari Eceng Gondok

Ekonomi Tumbuh di Atas 5 Persen

Secara makro, pertumbuhan ekonomi Kota Bandung berada di atas 5 persen. Angka ini mengikuti tren Jawa Barat.

“Pertumbuhan ekonomi sekarang luar biasa. Itu pasti di atas 5 persen. Inflasi juga terkendali, di bawah 3 persen terus,” ujarnya.

Inflasi yang stabil menjaga daya beli masyarakat. Di saat yang sama, ruang fiskal tetap terjaga. Farhan menyebut kondisi keuangan daerah sangat sehat.

Dengan PAD yang meningkat dan inflasi terkendali, Pemkot memiliki fleksibilitas anggaran lebih luas. Pemerintah optimistis pembangunan dapat berjalan tanpa membebani warga.

Hotel Non-Bintang Jadi Fokus Pembinaan

Meski pajak hotel meningkat, tantangan di lapangan tetap ada. Hotel non-bintang mencatat okupansi lebih rendah dibanding hotel berbintang.

Farhan tidak menutup kemungkinan ada pelaku usaha yang belum optimal dalam pelaporan pajak. Karena itu, Pemkot mendorong transparansi administrasi.

“Kalau mereka melapor, ada banyak bantuan yang bisa kita berikan,” katanya.

Program pembinaan akan mencakup dukungan pengelolaan sampah dan air limbah secara mandiri. Langkah ini diharapkan meningkatkan efisiensi operasional sekaligus kepatuhan regulasi.

Baca Juga:  Farhan Sesalkan Perusakan Fasilitas Umum Saat Demo Tolak RUU TNI, Sebut Ada Kelompok Anarkistis

Kemiskinan Ekstrem Turun, Risiko Desil 6 Diwaspadai

Di tengah capaian ekonomi, aspek sosial tetap menjadi perhatian. Angka kemiskinan ekstrem dilaporkan menurun.

Namun muncul potensi risiko baru. Warga yang naik ke desil 6 tidak lagi berhak atas Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS Kesehatan.

Pemkot memastikan sistem administrasi sudah cukup rapi. Warga di desil 1 sampai 5 yang belum terdaftar tetap dapat diupayakan masuk skema bantuan.

Transisi akan dijembatani melalui program Universal Health Coverage (UHC). Kebijakan ini dirancang agar akses layanan kesehatan tetap terjaga.

Keseimbangan Usaha dan Kepatuhan

Farhan menekankan pentingnya menjaga harmoni. Ekosistem usaha harus tumbuh. Namun kepatuhan pajak tetap menjadi prasyarat.

“Kita jaga ekosistem usaha tetap tumbuh, tapi juga patuh. Itu kuncinya,” tegasnya.

Dengan strategi tersebut, Pemkot Bandung menargetkan stabilitas ekonomi tetap terjaga. Tantangan sektor perhotelan direspons dengan pembinaan. Sementara itu, sektor restoran terus menjadi mesin penggerak PAD.(Red)