JABARNEWS | BANDUNG — Sektor industri di Jawa Barat tengah menghadapi tantangan berat pada awal tahun 2026. Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dilaporkan terus meningkat, dengan industri otomotif dan komponen pendukungnya sebagai sektor yang paling merasakan dampaknya.
Ketua DPD FSP LEM SPSI Jawa Barat, Muhamad Sidarta, memaparkan bahwa hingga saat ini estimasi jumlah pekerja yang kehilangan pekerjaan di wilayah tersebut telah menyentuh angka 15.000 orang. Fenomena ini didominasi oleh para pekerja dengan status Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT).
“Sekitar 15.000 pekerja terdampak di Jawa Barat, dan sebagian besar merupakan pekerja kontrak yang tidak diperpanjang,” ujar Sidarta pada Rabu, 1 April 2026.
Persaingan Global dan Kendaraan Listrik Impor
Menurut pengamatan Sidarta, tren pengurangan tenaga kerja ini mulai terlihat sejak medio 2025. Kawasan industri strategis seperti Karawang dan Bekasi, yang selama ini menjadi pilar otomotif Asia Tenggara, menjadi titik terdalam yang mengalami kontraksi.
Kondisi tersebut dipicu oleh penurunan daya beli serta ketatnya kompetisi di pasar global. Masuknya kendaraan listrik (EV) impor dari negara-negara seperti China dan Vietnam dengan harga yang jauh lebih terjangkau dianggap menjadi faktor utama yang mengguncang dominasi merek-merek lama.





