Selain AI dan baterai, kerja sama ini juga mencakup logam dasar, pengolahan daging dan makanan laut, tekstil, teh, furnitur, serta pengembangan drone.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai kerja sama ini memiliki bobot strategis karena melibatkan dua kekuatan ekonomi besar dunia dengan pasar domestik yang luas.
“Dengan populasi 1,4 miliar jiwa, Tiongkok berada di peringkat kedua dunia, sementara Indonesia dengan 285 juta jiwa berada di peringkat keempat. Keduanya anggota G20, dengan PDB Tiongkok sebesar USD17,8 triliun dan Indonesia USD1,4 triliun. Ini merupakan tonggak penting terbukanya kolaborasi pasar besar bagi kedua negara,” ujar Airlangga di Jakarta, Senin (12/1/2026).
Dorongan investasi ini juga terjadi di tengah hubungan dagang bilateral yang terus meningkat. Sepanjang 2024, nilai perdagangan Indonesia–Tiongkok mencapai US$135,2 miliar, mengukuhkan posisi Tiongkok sebagai mitra dagang terbesar Indonesia.
Dalam konteks itu, TCTP diposisikan sebagai platform strategis untuk mempercepat realisasi investasi, memperdalam kolaborasi industri, dan menyelaraskan rantai pasok lintas negara.





