JABARNEWS | BANDUNG – Indonesia secara geografis terletak di garis khatulistiwa dengan tingkat kelembapan yang tinggi, sebuah kondisi yang menjadikan wilayah ini memiliki aktivitas petir paling aktif di dunia. Di Jawa Barat, khususnya wilayah Bandung Raya, frekuensi sambaran petir tercatat meningkat signifikan seiring dengan fenomena cuaca ekstrem dan perubahan iklim yang tidak menentu belakangan ini.
Bagi pemilik bangunan, baik itu rumah tinggal, gedung perkantoran, hingga fasilitas industri, petir bukan sekadar fenomena alam biasa. Ia adalah ancaman nyata yang dapat menyebabkan kerusakan struktur, kebakaran, hingga kerusakan total pada sistem elektronik yang berharga. Sayangnya, pemahaman masyarakat mengenai sistem proteksi petir yang benar masih seringkali terbatas pada pemasangan tiang konvensional di atas atap, tanpa memperhatikan standar teknis yang menyeluruh.
Banyak yang tidak menyadari bahwa petir memiliki dua cara untuk merusak aset Anda. Pertama adalah sambaran langsung (direct strike) yang secara fisik menghantam bangunan dan dapat memicu ledakan atau kebakaran. Kedua, dan yang paling sering terjadi, adalah sambaran tidak langsung (indirect strike).
Sambaran tidak langsung menciptakan lonjakan voltase atau surge yang merambat melalui jaringan kabel listrik, telepon, atau data. Tanpa sistem pengaman yang mumpuni, lonjakan ini dapat menghanguskan perangkat CCTV, server, komputer, dan peralatan elektronik lainnya dalam sekejap. Di sinilah peran tenaga ahli dari Ahlipetir menjadi krusial untuk memberikan solusi proteksi berlapis, mulai dari penangkal eksternal hingga proteksi internal surge arrester.
Membangun sistem perlindungan petir yang efektif memerlukan perhitungan matang pada sistem pembumian atau grounding. Sebuah sistem dikatakan aman jika memiliki nilai resistansi tanah di bawah 5 Ohm. Jika nilai ini lebih tinggi, arus petir tidak akan terserap sempurna ke bumi dan justru berisiko “memantul” kembali ke instalasi listrik rumah.





