Selain soal gizi, Atalia juga menyoroti keterbatasan fasilitas sekolah yang masih berstatus rintisan. Saat ini, Sekolah Rakyat memanfaatkan lahan milik SMP Negeri 18 Kota Cirebon sehingga ruang belajar dan fasilitas pendukung masih terbatas.
Ia mencermati kebutuhan mendesak seperti ruang tidur dan jumlah toilet yang dinilai belum memadai. Meski demikian, Atalia tetap mengapresiasi keberadaan sekolah tersebut sebagai jaring sosial pendidikan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera.
“Kami tetap mengapresiasi, karena apa? Paling tidak, ini jaring sosialnya tetap terlaksana,” katanya.
Ia menegaskan, dukungan terhadap Sekolah Rakyat harus berjalan paralel antara pemenuhan gizi melalui MBG dan penguatan infrastruktur dasar.
“Yang paling penting adalah dimaksimalkan terkait dengan apa yang perlu dipersiapkan, untuk anak-anak ini dari sisi infrastrukturnya,” tandasnya. (Red)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News





