Syakur mencontohkan model integrasi yang diterapkan di Blitar, di mana produksi jagung, industri pakan, dan sentra peternakan terkonsentrasi dalam satu kawasan.
Pola tersebut membuat biaya produksi lebih efisien dan harga telur lebih kompetitif. Skema serupa dinilai dapat diadaptasi di Garut Selatan guna menekan ongkos distribusi sekaligus memperkuat daya saing produk lokal.
Namun, hingga kini pemerintah daerah belum memaparkan secara detail skema pendanaan, tahapan pelaksanaan, maupun target waktu realisasi pengembangan ekosistem tersebut.
Menurut Syakur, pengakuan atas ketimpangan pembangunan ini menjadi titik balik bagi arah kebijakan ekonomi daerah.
Tanpa intervensi yang terstruktur dan konsisten, wilayah selatan berisiko terus tertinggal akibat minimnya infrastruktur industri serta terbatasnya akses pasar.
Integrasi pertanian dan peternakan dinilai menjanjikan, tetapi memerlukan kepastian investasi, dukungan regulasi, dan koordinasi lintas sektor agar tidak berhenti sebatas wacana. (bis)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News





