Kondisi tersebut berdampak pada tingginya limpasan permukaan dan sedimentasi sungai.
“Run off tinggi dan daya serap air menurun. Jika bencana terjadi, biaya yang harus ditanggung jauh lebih besar,” ujar Desmanto.
Ia menyatakan PTPN berkomitmen mengembalikan fungsi lahan secara bertahap melalui penanaman kembali tanaman perkebunan dan tanaman keras seperti teh, kina, kopi, serta komoditas tahunan lainnya, bekerja sama dengan pemerintah daerah.
Sebelumnya, praktik alih fungsi kebun teh kembali terjadi di Kecamatan Pangalengan, khususnya di kawasan perkebunan teh Malabar Blok Pahlawan, yang memicu aksi demonstrasi pekerja perkebunan teh dan sempat viral di media sosial.
Aksi serupa juga terjadi pada 22 April 2025, dilakukan oleh Serikat Pekerja Perkebunan Teh Korwil Cinyiruan dan Kertasari yang menuntut perlindungan serta tindakan tegas PTPN untuk menghentikan penyerobotan lahan perkebunan.(red)





