Ia mengatakan fitur ini menjadi pintu masuk baru bagi penyebaran ide ekstrem yang menyamarkan bahaya nyata dalam bentuk permainan virtual.
Wahyu menilai pola penyusupan radikalisme digital ini memanfaatkan kerentanan psikologis anak muda yang sedang dalam masa transisi.
Minimnya kemampuan literasi digital untuk menyaring informasi berbahaya, menurutnya membuat anak muda menjadi target yang mudah dipengaruhi.
Kondisi ini diperparah oleh algoritma media sosial yang bekerja dengan menampilkan isu negatif secara berulang.
Menurut Wahyu, paparan informasi yang bias secara terus-menerus dapat membentuk persepsi yang keliru dan dianggap sebagai kebenaran mutlak oleh anak-anak.





