“Kalau algoritma terus memasukkan isu negatif kepada anak-anak, itu akan menjadi pemahaman mereka. Di era post-truth, kebenaran sering dianggap berdasarkan seberapa masif isu itu beredar, bukan faktanya,” jelasnya.
Guna memutus mata rantai penyebaran ini, Kesbangpol Jabar tengah mematangkan program pencegahan bersama Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror.
Wahyu mengungkapkan program ini ditargetkan menyasar siswa-siswi di sekolah yang dinilai sebagai kelompok paling rentan terhadap penetrasi narasi ekstrem via internet.
Selain fokus pada pelajar, edukasi kepada para ibu juga menjadi prioritas.
Ibu dinilai memiliki peran sentral dan ruang pengaruh besar dalam membentuk pola pikir dan ketahanan mental anak di rumah.





