Ia menuturkan, kontribusi utama dari pihak Jepang selama tiga tahun terakhir lebih difokuskan pada transfer pengetahuan dan teknologi, mulai dari pengelolaan air limbah, sistem perpipaan, pengolahan limbah, hingga dampaknya terhadap kualitas air sungai. Kerja sama ini tidak berorientasi pada pembangunan fisik, melainkan penguatan kapasitas sumber daya manusia.
“Yang dilakukan selama tiga tahun ini adalah capacity building untuk pegawai PDAM, Dinas Lingkungan Hidup, DPKP, DSDABM, termasuk edukasi bagi anak-anak sekolah dan masyarakat,” jelas Farhan.
Menurutnya, dampak kerja sama tersebut mulai terlihat di lapangan. Salah satu indikatornya adalah menurunnya resistensi masyarakat terhadap pembangunan septic tank dan biotank yang sesuai standar.
“Dulu septic tank di bantaran sungai sering dibuat menempel di pinggir sungai, itu sangat berbahaya karena bisa terbawa arus. Sekarang sudah mulai dihapuskan dan ditanam dengan benar. Resistensi warga juga jauh menurun,” ujarnya.
Farhan menegaskan, target Pemkot Bandung ke depan adalah zero defecation yang seutuhnya dan berkelanjutan, bukan sekadar pencapaian status. Menurutnya, menjaga konsistensi jauh lebih penting dibanding sekadar meraih pengakuan. (Red)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News





