Namun, lonjakan tersebut cenderung bersifat sementara dan belum sepenuhnya berdampak pada penyerapan tenaga kerja secara permanen.
“Momentum Ramadan dan Idul Fitri memang meningkatkan aktivitas ekonomi, terutama sektor informal dan perdagangan musiman. Namun, data Sakernas merekam kondisi struktural pasar kerja pada periode survei,” ujarnya.
Di sisi lain, komposisi bukan angkatan kerja menunjukkan dominasi perempuan yang berperan sebagai pengurus rumah tangga.
Dari total 567.176 orang yang tidak termasuk angkatan kerja, sebanyak 339.820 orang adalah perempuan yang mengurus rumah tangga.
Kondisi ini mengindikasikan besarnya potensi tenaga kerja perempuan yang belum terlibat di pasar kerja formal.
Januawarto menegaskan, data ketenagakerjaan tersebut diharapkan menjadi pijakan bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan penciptaan lapangan kerja dan penguatan ekonomi lokal.
“Data ini penting sebagai dasar perencanaan. Tantangannya adalah bagaimana mendorong penciptaan lapangan kerja produktif dan meningkatkan kualitas tenaga kerja,” katanya. (bis)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News





