Program ini tidak berhenti pada pelatihan teknis, tetapi dirancang untuk menciptakan dampak berkelanjutan. Peserta dibekali kompetensi yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja, sehingga memiliki peluang lebih luas untuk terlibat dalam proyek pembangunan maupun sektor lainnya.
Selain itu, pendekatan kolaboratif juga menjadi faktor penting. Program ini melibatkan pemerintah daerah, lembaga pelatihan, hingga masyarakat setempat dalam membangun ekosistem pemberdayaan yang terintegrasi.
“Kami berharap pelatihan dan sertifikasi kompetensi yang telah diperoleh para peserta dapat dimanfaatkan secara optimal dalam dunia kerja,” kata Nugroho.
Capaian ini memperlihatkan bahwa program TJSL tidak sekadar formalitas korporasi, tetapi bisa menjadi instrumen strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus memperkuat dampak sosial dari proyek pembangunan. (Red)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News





