“Saya sudah mencoba menghubungi Aslap tapi tidak diangkat, menelepon Kepala Dapur juga nomornya tidak aktif. Bahkan saya sudah sampaikan protes di grup koordinasi, namun tidak ada respons sama sekali,” katanya.
Dari total 216 porsi yang didistribusikan untuk siswa dan tenaga pengajar, sekitar setengahnya diduga dalam kondisi tidak layak konsumsi. Respons cepat justru datang dari aparat kewilayahan yang langsung menindaklanjuti laporan tersebut.
Masalah tidak berhenti di kualitas makanan. Pada pengiriman berikutnya, keterlambatan distribusi kembali terjadi, memperkuat keluhan pihak sekolah terhadap kinerja penyedia dari SPPG Kudadepa yang dikelola Yayasan Abu Bakar Ash Siddiq Al-Khairiyyah.
“Jika terus bermasalah, kami ingin penyedia dapur dikembalikan ke yang sebelumnya di Sundakerta. Pelayanan yang sekarang sangat mengecewakan,” tegas Wahab.
Sebagai kompensasi atas insiden tersebut, pihak penyedia mengganti menu dengan makanan kering berupa roti, susu cair, dan buah. Namun, pihak sekolah menilai langkah itu belum cukup tanpa adanya evaluasi menyeluruh terhadap sistem distribusi dan pengawasan kualitas makanan dalam program MBG. (Red)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News





