“Produk impor dengan harga di bawah Rp200 juta dan fitur yang kompetitif membuat penjualan kendaraan dari merek Jepang seperti mengalami penurunan,” tutur Sidarta menjelaskan situasi pasar saat ini.
Bayang-bayang Krisis Energi
Selain faktor persaingan dagang, ancaman krisis energi juga menjadi kekhawatiran besar yang dapat memperburuk stabilitas ketenagakerjaan. Jika pasokan energi tidak terjaga, sektor logam, elektronik, hingga mesin diprediksi akan ikut tumbang.
Risikonya tidak main-main. Sidarta memproyeksikan ada sekitar 70.000 buruh di Jawa Barat yang berada dalam posisi rawan PHK jika krisis energi terjadi. Di tingkat nasional, angka tersebut bisa membengkak hingga 150.000 pekerja, mencakup sektor industri besar hingga pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM).
“Gangguan di sektor energi akan menimbulkan efek berantai yang luas, tidak hanya bagi industri besar tetapi juga UKM dan masyarakat secara umum,” ucapnya.
Urgensi Proteksi Industri Dalam Negeri
Menyikapi situasi yang kian mengkhawatirkan, serikat pekerja mendesak pemerintah untuk mengambil langkah konkret. Penguatan kebijakan hilirisasi dan proteksi terhadap produk lokal menjadi harga mati guna menjaga keberlangsungan lapangan kerja.





