Kondisi ini jelas berbeda jauh dengan guru ASN yang menerima gaji tetap, tunjangan pensiun, dan jaminan kesehatan yang memadai.
Akibatnya, guru honorer menghadapi kerentanan ekonomi yang nyata dan harus bertahan dengan penghasilan yang tidak cukup untuk kebutuhan dasar keluarganya.
Misalnya, cerita Sari, seorang guru honorer di sebuah sekolah negeri di daerah terpencil Jawa Tengah, mengungkapkan betapa beratnya hidup sebagai guru honorer.
Ia harus mengajar di dua sekolah berbeda setiap hari karena honor di sekolah pertama hanya cukup untuk membeli makan sehari-hari.
“Kadang saya harus pinjam uang ke tetangga untuk kebutuhan sekolah anak,” kata Sari.
Kisah ini menggambarkan betapa ketidakpastian status kerja dan penghasilan membuat guru honorer terus berjuang tanpa jaminan kesejahteraan yang layak.
Kondisi ini bukan hanya soal ketidakadilan finansial, tetapi berdampak pada profesionalisme dan motivasi guru honorer itu sendiri. Tanpa kepastian dan perlindungan, mereka sulit fokus mengembangkan kompetensi dan memberikan pengajaran optimal.
Dengan status non-ASN yang rapuh dan kurangnya jaminan sosial, guru honorer menjadi kelompok yang paling rentan dalam ekosistem pendidikan nasional.





