Lebih ironis lagi, fenomena terbaru yang mengundang kritik keras adalah kemudahan pengangkatan tenaga kerja di program sosial seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), yang tanpa seleksi ketat dapat langsung diangkat, sementara guru honorer harus melewati proses panjang dan sulit untuk mendapat status ASN.
Ketidakkonsistenan kebijakan yang terjadi saat ini jelas melemahkan semangat guru honorer dan menegaskan bahwa pemerintah belum benar-benar siap mengutamakan pembangunan sumber daya manusia di sektor pendidikan. Ketergantungan penghasilan guru honorer pada dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) semakin memperparah situasi. Dana BOS yang sering kali tidak stabil dan terbatas kapasitasnya menyebabkan banyak sekolah mengalami kesulitan dalam membayar honor guru secara penuh dan tepat waktu.
Kondisi ini tidak hanya menciptakan ketidakpastian finansial bagi guru, tetapi juga mengindikasikan lemahnya pengelolaan fiskal dan administratif di tingkat daerah, yang mestinya bisa menjadi fondasi perbaikan.
Contoh nyata dari pengalaman guru honorer di SMP Negeri 12 Makassar, Budi Santoso, memperlihatkan bagaimana ketidakpastian pembayaran honor berdampak langsung pada semangat mengajar dan fokusnya dalam membina siswa.
Ketika tunjangan terlambat cair, bukan hanya tekanan ekonomi yang dirasakan, tapi juga rasa tidak dihargai yang menggerus motivasi. Sebaliknya, ketika guru mendapatkan perhatian dan insentif memadai, seperti yang dialami oleh guru honorer di SMA Negeri 5 Yogyakarta yang menerima tunjangan dari pemerintah daerah secara rutin, terjadi peningkatan signifikan dalam kualitas pengajaran dan keterlibatan mereka di kegiatan sekolah.
Menurut Dr. Ahmad Rifai, pengamat pendidikan dan dosen Universitas Lampung (Unila), kesejahteraan guru harus dipahami secara holistik—tidak hanya soal penghasilan, tetapi juga rasa aman, penghargaan, dan kepastian status kerja yang menjadi fondasi utama profesionalisme serta motivasi mereka dalam mengajar.
“Selama guru masih dihantui ketidakpastian finansial dan status kerja, sulit bagi mereka untuk berfokus dan berinovasi dalam meningkatkan mutu pembelajaran,” tegas Rifai.





