“Emisi yang dihasilkan lebih berbahaya daripada sampah. Kalau sudah jadi emisi, tidak ada yang bisa kita lakukan karena masker biasa tidak akan sanggup. Masker yang paling bisa menangani itu adalah masker N95 yang biasa kita tangani waktu di COVID,” tuturnya.
Hanif menjelaskan, pembakaran sampah melalui insinerator menghasilkan polutan bersifat persisten yang dapat bertahan lama di udara.
Zat berbahaya tersebut berpotensi mencemari lingkungan hingga puluhan tahun dan meningkatkan risiko kanker bagi masyarakat.
“Jadi dia mempunyai waktu hilang itu 20 tahun dari sejak dibakarnya. Karsinogenik akan (menimbulkan) kanker ketika masuk paru-paru kita,” katanya.
Untuk kondisi saat ini, Hanif menilai penanganan sampah dengan cara penumpukan sementara masih lebih bisa ditoleransi dibandingkan pembakaran.





