Setibanya di negara tujuan, Lely justru diminta mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga. Situasi makin memburuk ketika ia mengalami perlakuan kasar dari majikan pertamanya, termasuk kekerasan verbal dan tindakan fisik seperti menoyor kepalanya.
Selama hampir sebulan bekerja, gaji yang diterimanya pun tidak utuh karena dipotong oleh agen penyalur.
Setelah keluar dari tempat kerja pertama, Lely dipindahkan ke majikan lain. Namun hubungan kerja itu hanya bertahan satu hari. Majikan barunya kemudian mengembalikan Lely kepada agen.
Menurut dia, tekanan justru semakin besar setelah agen penyalur menghubungi keluarganya di Bekasi. Agen tersebut meminta sejumlah uang untuk biaya pemulangan sambil melontarkan kata-kata yang dianggap intimidatif.
Merasa terancam, Lely akhirnya memilih mendatangi KBRI setelah mendapat saran dari kakaknya di Bekasi.





