
JABARNEWS | PURWAKARTA – Mencoba bertahan di tengah persaingan dengan produksi sapu berbahan plastik, Pengrajin industri rumahan sapu ijuk di Kampung Sukaresmi Desa Sindangpanon, Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta tetap produksi.
Salah satu perajin yang masih bertahan, adalah Abah Ama (80) tahun. Meski terbilang sudah renta, pria yang senang mengenakan topi ini tidak pernah merasa tersaingi dengan munculnya sapu berbahan plastik.Dia bertahan puluhan tahun menggeluti profesi ini.
Menurutnya, harga yang murah dan kualitas yang baik akan membuat masyarakat lebih memilih sapu ijuk.
“Abah gak khawatir. Abah yakin masyarakat masih butuh sapu ijuk tradisional bukan yang plastik,” katanya, Kamis (17/5/2018).
Meski terbilang sudah sepuh, tangan Abah Ama masih terlihat cekatan dalam membuat sapu ijuk. Dalam sehari, Abah Ama mengaku masih bisa membuat 30-40 sapu ijuk dengan harga Rp. 3000 per sapunya.
“Dalam sehari Abah masih bisa membuat 30-40 ijuk,” ujarnya.
Untuk soal pemasaran, Abah menyebutkan, sapu ijuknya dijual ke sejumlah daerah di Jawa Barat.
“Dijualnya ke Bandung, Subang, Karawang, dan Purwakarta,” ujarnya.
Abah Ama mengaku akan terus membuat sapu ijuk. Ia tidak memiliki kegiatan lain selain membuat sapu ijuk. Selain itu juga, dari membuat sapu ijuk, ia bisa menghidupi kebutuhan pribadi dan keluarganya. (Gin)
Jabarnews | Berita Jawa Barat





