Daerah

Dari Jalanan ke Ruang Publik, Kolaborasi Toserbaku dan 347 Homebreaks Membaca Identitas Urban Bandung

×

Dari Jalanan ke Ruang Publik, Kolaborasi Toserbaku dan 347 Homebreaks Membaca Identitas Urban Bandung

Sebarkan artikel ini
Tuku
Kolaborasi Toserbaku dan 347 Homebreaks Membaca Identitas Urban Bandung. (Foto: Istimewa).

JABARNEWS | BANDUNGBandung kembali menjadi ruang artikulasi kultur urban yang lahir dari pertemuan komunitas, keseharian, dan nilai independensi. Kolaborasi antara Toserbaku, lini produk gaya hidup dari TokoKopi Tuku, dan 347 Homebreaks dibaca sebagai refleksi atas bagaimana identitas kota ini terus dibentuk melalui praktik budaya yang konsisten, bukan sekadar tren sesaat.

Kerja sama tersebut berangkat dari kedekatan historis dengan Bandung sebagai kota yang sejak lama menjadi laboratorium street culture. Sejak berdiri pada 1996, 347 Homebreaks—lini dari UNKL347 tumbuh bersama perubahan ritme kota, membangun ekosistem kreatif yang berakar pada komunitas dan bahasa desain yang lugas. Perjalanan panjang itu menjadikan 347 Homebreaks bukan hanya sebagai entitas komersial, tetapi juga bagian dari memori kolektif kultur jalanan Bandung.

Baca Juga:  Pekerja Migran Asal Kota Banjar Meninggal Dunia di Arab Saudi Karena Sakit

CXO TUKU, Vella Siahaya, menilai kolaborasi ini lahir dari kesamaan cara pandang terhadap desain dan fungsi. Menurutnya, Bandung memiliki karakter khas dalam mengekspresikan gaya hidup sehari-hari yang santai namun tetap berkarakter.

Baca Juga:  Cegah Warga Berutang demi Hajatan, Dedi Mulyadi Janji Beri Subsidi Hiburan Kesenian Rakyat

“Kolaborasi dengan 347 Homebreaks terasa natural karena kami berbagi pandangan bahwa desain yang kuat harus tetap fungsional dan nyaman dipakai. Dari perjalanan panjang 347 Homebreaks, kami belajar tentang konsistensi dan keberanian menjaga identitas agar tetap relevan,” ujar Vella di Bandung, Selasa (16/12/2025).

Baca Juga:  Empat Partai Pendukung Muraz-Andri Belum Lengkapi Syarat Dukungan DPP, KPU Sukabumi Beri Batas Waktu

Ia menambahkan, kolaborasi tersebut tidak dilepaskan dari konteks kota dan warganya. Produk yang dihadirkan dimaknai sebagai bagian dari keseharian masyarakat urban yang bergerak dinamis, tanpa kehilangan kedekatan dengan cerita lokal tempat mereka tumbuh.

Pages ( 1 of 2 ): 1 2