Sutradara drama tari tersebut, Irwan Jamal, menjelaskan bahwa karya ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan bentuk revitalisasi cerita klasik yang nyaris dilupakan.
“Ini kisah cinta tragis Putri Adaninggar yang berangkat dari hikayat Amir Hamzah, diterjemahkan ke dalam Serat Menak oleh pujangga Keraton Surakarta. Kami padukan unsur tari, visual teater, multimedia, dan narasi dalang agar relevan dengan penonton masa kini,” kata Irwan.
Meski konsisten melahirkan karya dan menggelar pertunjukan selama puluhan tahun, STI tetap berjalan secara mandiri. Indrawati menegaskan tidak ada sokongan dana pemerintah, baik untuk produksi maupun pembinaan generasi muda.
“Kami bertahan dengan kemampuan sendiri. Padahal ini warisan budaya Jawa Barat,” tegasnya.
Fakta bahwa sebuah sanggar tari mampu bertahan hampir enam dekade tanpa bantuan negara menjadi ironi di tengah berbagai program kebudayaan yang kerap diklaim pemerintah. Indrawati Lukman menjadi simbol perlawanan sunyi terhadap abainya negara dalam menjaga seni tradisional.





