JABARNEWS | BANDUNG – Hari kedua Aloysius Fest 2026 menampilkan wajah pendidikan yang lebih partisipatif dan membumi. Setelah hari pertama menghadirkan forum kepemimpinan melalui Principal Connect, rangkaian kegiatan hari kedua menyoroti praktik nyata keberlanjutan melalui Festival Bermain Anak dan Aloysius Green Gallery yang menampilkan gerakan Organic NANO Enzyme.
Dalam lanjutan Principal Connect yang diselenggarakan oleh Marwita Magiswara bekerja sama dengan IW Demy, para pengurus yayasan dan pimpinan sekolah mengikuti talkshow bertajuk “Leading and Managing Education Ecosystem.” Diskusi ini menegaskan bahwa transformasi pendidikan membutuhkan sinergi antara kepemimpinan yang visioner dan praktik pembelajaran yang konkret di sekolah.
Komitmen tersebut terlihat langsung di berbagai kegiatan siswa. Festival Bermain Anak untuk jenjang TK dan SD menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus bermakna. Melalui permainan kolaboratif, eksplorasi kreatif, dan aktivitas edukatif, anak anak diperkenalkan pada nilai kebersamaan, kepedulian terhadap lingkungan, dan keberanian berekspresi sejak usia dini.
Di sisi lain, Aloysius Green Gallery menjadi pusat perhatian pengunjung. Selain menampilkan karya daur ulang siswa dari jenjang TK hingga SMA, galeri ini secara khusus memperkenalkan gerakan Organic NANO Enzyme sebagai model pengelolaan lingkungan berbasis edukasi.
Organic NANO Enzyme yang diproduksi dan dipresentasikan bukan sekadar produk ramah lingkungan, tetapi bagian dari proses pembelajaran yang terintegrasi dalam kurikulum dan aktivitas sekolah. Melalui pendekatan ilmiah, eksperimen sederhana, dan pembiasaan sehari hari, siswa diajak memahami siklus alam serta tanggung jawab manusia dalam menjaga keseimbangan lingkungan.

kegiatan bermain yang edukatif dan menyenangkan. (Foto: Istimewa).
Berbagai instalasi dan karya berbahan material bekas menunjukkan bagaimana kesadaran ekologis ditumbuhkan melalui kreativitas. Dari produk seni hingga proyek inovatif, karya karya tersebut memperlihatkan bahwa keberlanjutan bukan konsep abstrak, melainkan pengalaman belajar yang hidup dan aplikatif.
Selain itu, siswa SD dan SMP mengikuti Workshop Metaverse sebagai bagian dari penguatan literasi digital, sementara siswa SMP dan SMA menampilkan karya drama pendek bertema lingkungan serta video edukasi anti-bullying. Integrasi teknologi dan nilai kemanusiaan menjadi benang merah yang memperlihatkan bahwa inovasi harus berjalan beriringan dengan
karakter.





