Pada zona tersebut, gerakan tanah berpotensi terjadi terutama di lereng yang telah mengalami gangguan alami maupun akibat aktivitas manusia, khususnya saat hujan deras berlangsung dalam waktu lama.
Aktivitas pemotongan lereng untuk pembangunan permukiman dan akses jalan, ditambah sistem drainase permukaan yang belum optimal, turut meningkatkan risiko longsor serta menurunkan stabilitas lereng di kawasan perbukitan.
“Peristiwa ini menunjukkan keterkaitan kuat antara kondisi morfologi curam, batuan vulkanik lapuk, struktur geologi, serta pengaruh curah hujan tinggi terhadap terjadinya longsor berskala luas,” jelas Lana.
Sebagai langkah penanganan, Badan Geologi telah memberangkatkan Tim Tanggap Darurat (TTD) ke lokasi bencana.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Hadi Wijaya mengatakan tim telah melakukan pemeriksaan lapangan untuk mengidentifikasi penyebab gerakan tanah serta menyiapkan rekomendasi teknis penanganan di area terdampak seluas sekitar 30 hektare.





