“Kami menggunakan DTSEN sebagai basis data penerima. Setelah cut off data, penyaluran kemungkinan sekitar September 2026,” ujarnya.
Purwanto mengakui nilai bantuan operasional mengalami penurunan dibanding usulan awal yang sempat mencapai Rp1,2 juta per siswa per tahun. Penyesuaian dilakukan karena jumlah sasaran penerima diperluas, sehingga anggaran harus dibagi lebih merata.
“Awalnya kami usulkan Rp1,2 juta. Tapi karena sasaran penerima bertambah, akhirnya menjadi Rp600 ribu per orang untuk satu tahun. Sekarang masih tahap verifikasi faktual,” ucapnya.
Meski demikian, ia menegaskan beasiswa operasional memang tidak dimaksudkan untuk menutup seluruh biaya pendidikan di sekolah swasta. Bantuan tersebut bersifat subsidi yang melengkapi dana dari pemerintah pusat melalui Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
“Mereka tetap dapat BOS dari pusat. Beasiswa operasional ini bantuan tambahan dari Pemprov Jabar,” katanya.





