“Kepuasan masyarakat belum tercipta dalam layanan nyata. Tapi kami akan menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan itu,” ucapnya.
Dedi juga menyampaikan apresiasi kepada warga yang memberikan dukungan maupun kritik. Ia menilai demonstrasi dan ketidakpuasan publik menjadi indikator penting bahwa masih ada persoalan pelayanan yang harus dibenahi.
“Saya sangat menghormati dan banggakan dua-duanya, karena mereka merupakan warga Jawa,” tuturnya.
Selain itu, ia mengapresiasi kepala desa, lurah, camat, bupati, wali kota, hingga perangkat daerah tingkat provinsi dan kabupaten/kota yang dinilai tetap menjalankan fungsi pelayanan publik di tengah keterbatasan anggaran.
“Saya bangun kerangka berpikir birokrasi berpuasa, bukan birokrasi berpesta,” katanya.





