“Program nasional dengan tujuan mulia justru berubah menjadi ancaman nyata bagi keselamatan anak-anak akibat lemahnya pengawasan, standar keamanan pangan, serta kesiapan fasilitas pendukung,” jelasnya.
GMNI Cianjur menyoroti dugaan kelalaian berulang dalam pelaksanaan program MBG. Menurut Rama, tidak adanya pembelajaran dari kasus sebelumnya menunjukkan keselamatan anak-anak seolah dijadikan uji coba kebijakan.
“Kasus keracunan yang terus terjadi membuktikan absennya perbaikan sistem,” ujarnya.
Selain itu, GMNI menyoroti minimnya fasilitas kesehatan di wilayah pedesaan. Rama menyebut sekitar 10 siswa terpaksa dilarikan menggunakan mobil warga karena tidak tersedia ambulans di Desa Wargasari.
“Ini menunjukkan ketertinggalan infrastruktur kesehatan di pelosok Cianjur,” katanya.





