Untuk meredam potensi kemacetan yang lebih parah, Dishub Kota Bandung akan menurunkan personel di lapangan serta memperkuat koordinasi dengan kepolisian dalam menyiapkan rekayasa lalu lintas.
Selain itu, Dishub juga berencana menggelar focus group discussion (FGD) Forum Lalu Lintas guna merumuskan strategi pengaturan jalan dalam jangka pendek, menengah, hingga panjang.
Pengelolaan arus kendaraan nantinya turut diperkuat oleh penerapan Intelligent Traffic System (ITS) berbasis kecerdasan buatan pada lampu lalu lintas. Sistem ini dirancang untuk merespons kepadatan secara otomatis.
“Lampu merah AI itu untuk penanganan macet. Sudah uji coba dari tahun kemarin. Artinya otomatis kalau antrean kendaraannya panjang, lampunya bisa otomatis dihijaukan,” katanya.
Dishub berharap kombinasi pengaturan manual di lapangan, rekayasa lalu lintas, hingga dukungan teknologi dapat menekan gangguan mobilitas warga selama pembangunan BRT berlangsung.
Proyek ini diproyeksikan menjadi tulang punggung transportasi publik Bandung—meski, untuk sementara, kota harus bersabar menghadapi riak kemacetan di jantung aktivitasnya. (kom)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News





