Hanif juga menyoroti perubahan tata guna lahan di kawasan Cisarua yang dipengaruhi oleh urbanisasi masif. Perubahan pola pertanian, menurutnya, turut berkontribusi terhadap meningkatnya kerentanan lingkungan.
“Sebenarnya ini bagian dari urbanisasi yang cukup masif di kota-kota, sehingga membawa perubahan pola makan yang bukan kebiasaan kita, seperti kentang, kol, dan paprika. Tanaman ini umumnya tumbuh di daerah subtropis,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa tanaman subtropis biasanya dibudidayakan di ketinggian 800 hingga 2.000 meter di atas permukaan laut, sementara karakter wilayah lokal tidak sepenuhnya sesuai dengan jenis tanaman tersebut.
“Karakter kita sebenarnya tidak seperti itu. Dulu, tahun 2025 belum semasif ini. Sekarang pertanian naik ke gunung dan membuka lahan-lahan baru seperti ini, yang akhirnya berdampak pada stabilitas lingkungan,” jelasnya.
Untuk memastikan kajian berjalan optimal, tim ahli Kementerian LH akan segera bergabung dengan pemerintah daerah setempat di bawah koordinasi bupati.





