Pertemuan digelar untuk memetakan kondisi rantai pasok secara apa adanya, baik dari sisi kapasitas produksi maupun kebutuhan dapur MBG.
Dari pemetaan awal, BGN menemukan kesenjangan volume yang cukup signifikan. Pada komoditas jagung, kapasitas produksi petani Cipanas berada di kisaran 30 ton per bulan.
Sementara itu, kebutuhan dapur MBG di Jakarta mencapai sekitar 240 ton per bulan. Kesenjangan ini menunjukkan perlunya perencanaan produksi yang lebih selaras dengan kebutuhan riil.
Selain persoalan volume, pemetaan juga mengungkap disparitas harga yang terjadi di lapangan. Dian mencontohkan komoditas wortel yang kerap dibeli dapur MBG dengan harga Rp15.000 hingga Rp25.000 per kilogram.
Di tingkat kebun, petani hanya menerima Rp1.500 hingga Rp3.000 per kilogram. Selisih harga ini mencerminkan panjangnya rantai distribusi pangan.





