“Dulu kawasan ini ditanami tanaman keras. Sekarang sebagian besar menjadi kebun palawija,” kata Herman di lokasi kejadian, Sabtu (24/1/2026).
Ia menjelaskan, hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut diduga memperburuk kondisi tanah. Aliran air yang muncul, meski berukuran kecil, berpotensi membentuk bendungan alami dari material batu dan kayu.
“Saat hujan deras turun, ditambah adanya aliran air, meskipun kecil, kemungkinan terjadi bendung alam dari batu dan kayu yang kemudian jebol,” ujarnya.
Meski demikian, Herman menegaskan penyebab longsor di lereng Gunung Burangrang masih bersifat dugaan sementara.
Pihaknya akan melakukan kajian lanjutan bersama tim ahli untuk memastikan faktor utama terjadinya bencana tersebut.





