Untuk mengantisipasi kondisi darurat selama perjalanan, rombongan pemudik juga dikawal dua unit ambulans dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Peserta mudik berasal dari berbagai daerah di Jawa Barat seperti Bandung Raya, Cianjur, Sukabumi, Karawang hingga Sumedang. Mereka memiliki latar belakang pekerjaan yang beragam, mulai dari mahasiswa, buruh lepas, guru ngaji, karyawan swasta hingga pedagang kaki lima.
Panitia juga memberikan perhatian bagi peserta penyandang disabilitas. Dua pemudik difabel ikut dalam rombongan, termasuk seorang peserta yang harus berbaring di jok belakang bus karena kondisi fisik serta seorang pemudik tunawicara dengan autisme yang didampingi keluarganya.
Setibanya di Jawa Tengah, para pemudik akan mendapat layanan tambahan di terminal tipe B berupa pemeriksaan kesehatan gratis bagi penumpang yang mengalami kelelahan atau mabuk perjalanan. Pemerintah juga menyiapkan akses internet gratis agar pemudik dapat segera menghubungi keluarga saat tiba di terminal tujuan.
Program mudik gratis bagi perantau Jawa Tengah di Jawa Barat ini telah berjalan selama lima tahun. Meski mampu memberangkatkan lebih dari seribu pemudik, minat masyarakat masih jauh lebih besar dibandingkan kapasitas yang tersedia.





