Menurutnya, tingginya perputaran uang menjelang Lebaran membuat peredaran uang palsu berisiko meluas jika tidak segera dihentikan.
Dari lokasi kejadian, polisi menyita berbagai peralatan yang digunakan untuk memproduksi uang palsu, seperti laptop, printer, mesin cetak offset, mesin penghitung uang, hingga alat pendeteksi inframerah. Selain itu, ditemukan pula bahan baku berupa kertas khusus yang diduga digunakan untuk menyerupai karakteristik uang asli.
Total barang bukti yang diamankan antara lain ratusan lembar uang palsu pecahan Rp100.000, cetakan besar yang belum dipotong, puluhan rim kertas, serta uang palsu yang baru dicetak satu sisi. Temuan ini menunjukkan proses produksi dilakukan secara terstruktur dengan skala besar.
Pihak Bank Indonesia menyebut kualitas uang palsu tersebut cukup menyerupai aslinya sehingga berpotensi mengecoh masyarakat yang tidak teliti. Namun, perbedaannya dapat dikenali melalui pemeriksaan lebih cermat, termasuk dengan bantuan sinar ultraviolet.
Masyarakat pun diimbau untuk lebih waspada saat bertransaksi, terutama menjelang Idul Fitri. Penerapan metode 3D, yakni dilihat, diraba, dan diterawang, dinilai penting untuk memastikan keaslian uang. Jika menemukan uang yang mencurigakan, warga diminta segera melaporkannya ke pihak bank atau aparat berwenang. (det)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News





