Imam menegaskan bahwa penyebab bencana tidak bisa disederhanakan hanya pada faktor alih fungsi lahan. Ia menjelaskan adanya interaksi antara kondisi alamiah wilayah vulkanik tua yang memiliki lapisan pelapukan tanah tebal dengan curah hujan berdurasi panjang.
“Ketika hujan menjenuhkan pori-pori tanah, kekuatan geser lereng turun drastis. Material kemudian meluncur dan menutup aliran sungai di bagian hulu,” katanya.
Ia juga memperingatkan bahwa potensi bahaya belum sepenuhnya berakhir. Tim ahli masih menemukan indikasi adanya sumbatan serupa di beberapa titik hulu sungai.
Jika hujan dengan intensitas tinggi kembali terjadi, akumulasi air di balik sumbatan tersebut berisiko kembali jebol dan mengirim aliran lumpur ke wilayah permukiman.
Imam menyebut masyarakat perlu memahami tanda-tanda awal sebelum bencana serupa terjadi. Salah satu indikator penting adalah perubahan debit sungai saat hujan lebat.





