BBKSDA Jabar juga berkoordinasi dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung serta tim medis UPTD Rumah Sakit Hewan Jawa Barat. Namun, kondisi Hara terus merosot tajam.
Pada 23 Maret 2026, Hara dilaporkan mengalami diare berdarah. Hasil rapid test dari sampel feses mengonfirmasi harimau tersebut positif terpapar virus FPV.
“Meski telah dilakukan penanganan intensif, Hara dinyatakan mati pada 24 Maret 2026 pukul 09.14 WIB. Hasil nekropsi menunjukkan perdarahan masif pada saluran pencernaan serta kerusakan vili usus yang menjadi ciri khas infeksi FPV,” ujarnya.
Malangnya, Huru mulai menunjukkan gejala serupa pada 25 Maret 2026. Meski sempat menunjukkan kodisi kesehatan yang membaik, Huru akhirnya mengembuskan napas terakhir pada 26 Maret 2026 sekitar pukul 07.30 WIB.
Hasil bedah bangkai atau nekropsi terhadap Huru menunjukkan adanya perdarahan pada usus, kerusakan vili usus, serta luka pada lambung. Uji laboratorium kembali mengonfirmasi status positif infeksi FPV.





