“Sekarang satu kesalahan bisa ditertawakan satu dunia. Tekanan psikologisnya jauh lebih berat. Ini berbahaya kalau kita anggap sepele,” ujarnya.
Sebagai respons, Pemkot Bandung menyiapkan program intervensi kesehatan mental di sekolah dengan melibatkan guru bimbingan konseling (BK), psikolog, hingga psikolog klinis. Mereka akan melakukan asesmen serta pendampingan langsung kepada siswa yang terindikasi mengalami tekanan psikologis.
Menurut Farhan, pendekatan tersebut tidak dimaksudkan untuk memberi stigma atau label negatif kepada siswa, melainkan sebagai bentuk perlindungan agar anak mendapatkan dukungan yang sesuai dengan kebutuhannya.
“Bukan berarti anak kita dianggap bermasalah. Justru ini bentuk kepedulian. Apa yang dialami anak-anak di luar rumah sering kali di luar jangkauan orang tua,” katanya.
Sebelumnya, Farhan mengungkapkan hasil survei Dinas Kesehatan Kota Bandung yang mencatat sekitar 10 ribu siswa tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas mengalami gangguan kesehatan mental sepanjang tahun 2025.





