Daerah

HPI Gelar Silaturahmi Lintas Generasi Pemandu Wisata Bandung Raya, Senior – Junior Berkumpul

×

HPI Gelar Silaturahmi Lintas Generasi Pemandu Wisata Bandung Raya, Senior – Junior Berkumpul

Sebarkan artikel ini
HPI Gelar Silaturahmi Lintas Generasi Pemandu Wisata Bandung Raya, Senior - Junior Berkumpul
Pemandu wisata dari berbagai generasi yang tergabung dalam Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Bandung menghadiri acara Silaturahmi Lintas Generasi Pramuwisata se-Bandung Raya di Sindang Reret Gasibu, Bandung.

JABARNEWS | BANDUNG – Sekitar 200 pemandu wisata dari berbagai angkatan berkumpul dalam acara ‘Silaturahmi Lintas Generasi Pemandu Wisata se-Bandung Raya’ yang digelar DPC Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kota Bandung di Sindang Reret Gasibu, Jalan Surapati, Bandung. Pertemuan ini mempertemukan pramuwisata senior sejak angkatan 1985 hingga generasi junior 2025.

Momentum ini tidak sekadar reuni. Pertemuan tersebut juga menjadi ruang berbagi pengalaman, memperkuat solidaritas profesi, serta membicarakan masa depan industri pariwisata Bandung yang terus berubah.

Acara yang berlangsung sejak pukul 14.30 hingga waktu berbuka puasa ini diisi berbagai kegiatan. Mulai dari perkenalan antarangkatan, tausiah Ramadan, buka puasa bersama, penggalangan dana, hingga sesi foto bersama sebagai simbol kebersamaan.

Mengapa Pertemuan Lintas Generasi Ini Penting?

Pertemuan lintas generasi dalam komunitas pramuwisata jarang terjadi. Apalagi dalam skala besar yang mempertemukan puluhan angkatan berbeda.

Para pemandu wisata senior hadir membawa pengalaman panjang di dunia pariwisata. Banyak dari mereka aktif sejak era 1980-an hingga 1990-an, ketika kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia meningkat tajam.

Baca Juga:  Enam Pelaku Curanmor Berhasil Diamankan Polisi, 16 Kendaraan Jadi Barang Bukti

Sebaliknya, generasi muda hadir dengan pendekatan baru. Mereka tumbuh di tengah perubahan tren pariwisata yang kini semakin didominasi wisatawan domestik.

Karena itu, forum seperti ini dinilai penting. Selain mempererat hubungan antaranggota, kegiatan ini juga membuka ruang dialog tentang tantangan profesi pramuwisata ke depan.

Ketua pelaksana kegiatan, Wahyu Taryana, menegaskan bahwa tujuan utama acara ini adalah memperkuat ikatan komunitas.

“Kami ingin menciptakan ruang temu yang hangat antara senior dan yunior, agar ilmu, pengalaman, dan semangat kebersamaan ini terus hidup,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada satu pertemuan saja.

“Harapannya, acara ini bukan yang terakhir, melainkan awal dari tradisi silaturahmi lintas generasi yang berkelanjutan,” katanya.

Nostalgia Era Kejayaan Pariwisata Indonesia

Bagi para pemandu wisata senior, pertemuan ini juga menjadi ajang bernostalgia. Mereka mengenang masa ketika industri pariwisata Indonesia berada pada puncaknya, khususnya pada awal 1990-an.

Pada masa itu, Bandung termasuk destinasi favorit wisatawan asing. Para pramuwisata lokal kerap memandu turis dari berbagai negara Eropa dan Amerika.

Baca Juga:  Anggota DPRD Kabupaten Purwakarta H Komarudin Kirim Bantuan ke Bencana Longsor

Tidak sedikit dari mereka memiliki kemampuan bahasa asing yang kuat. Sebagian menguasai bahasa Jerman, Belanda, Perancis, Rusia, Inggris hingga Spanyol. Bahkan beberapa pemandu wisata mampu menggunakan dua hingga tiga bahasa sekaligus.

Namun masa keemasan tersebut sempat terhenti. Kerusuhan sosial dan perubahan politik pada Mei 1998 memberikan dampak besar terhadap sektor pariwisata nasional. Kunjungan wisatawan mancanegara menurun drastis, sehingga aktivitas kepemanduan wisata juga ikut terdampak.

Bagaimana Generasi Baru Beradaptasi?

Di sisi lain, generasi muda pemandu wisata hadir dengan pendekatan berbeda. Mereka bergabung dalam organisasi Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) dan mulai menyesuaikan diri dengan perubahan pasar wisata.

Kini, wisata domestik berkembang pesat. Bandung menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan lokal dari berbagai kota di Indonesia.

Karena itu, banyak pemandu wisata muda mulai mengembangkan kemampuan memandu dalam bahasa Indonesia yang komunikatif dan informatif.

Selain itu, sebagian juga mempersiapkan diri menguasai bahasa Melayu. Langkah ini dilakukan untuk menjawab kebutuhan wisatawan dari negara serumpun di Asia Tenggara.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa profesi pramuwisata terus berkembang mengikuti dinamika industri pariwisata.

Baca Juga:  Prihatin Puluhan Tahun Jalan Desanya Rusak, Warga Tasikmalaya Patungan Beli Semen

Silaturahmi, Spirit Kebersamaan, dan Kepedulian Sosial

Selain diskusi informal antarangkatan, kegiatan ini juga diisi tausiah Ramadan yang mengingatkan pentingnya menjaga integritas dalam profesi.

Suasana semakin hangat ketika para peserta berbuka puasa bersama. Momen ini memperkuat rasa kekeluargaan di antara para pemandu wisata yang selama ini lebih sering bertemu di lapangan kerja.

Panitia juga membuka kegiatan penggalangan dana sebagai bentuk kepedulian sosial di dalam komunitas.

Rangkaian acara kemudian ditutup dengan sesi foto bersama. Bagi banyak peserta, foto tersebut menjadi simbol persatuan profesi yang telah melintasi berbagai generasi.

Harapan Menjadikan Tradisi Tahunan

Melihat antusiasme peserta, panitia berharap kegiatan serupa dapat digelar secara rutin.

Silaturahmi lintas generasi dianggap penting untuk menjaga identitas komunitas pramuwisata. Selain itu, forum ini juga bisa menjadi ruang bertukar informasi tentang perkembangan industri wisata.

Dengan demikian, pengalaman panjang para senior dapat terus diwariskan. Sementara generasi muda mampu membawa inovasi baru bagi dunia pariwisata Bandung.(Red)