Jurnal Warga

Hiruk-Pikuk di Tengah Pendidikan Nonformal

×

Hiruk-Pikuk di Tengah Pendidikan Nonformal

Sebarkan artikel ini
Abdul Jamil
Abdul Jamil Al Rasyid, lahir di Padang Pariaman, mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau Universitas Andalas. (foto: istimewa)
Abdul Jamil
Abdul Jamil Al Rasyid, lahir di Padang Pariaman, mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau Universitas Andalas. (foto: istimewa)

Selain itu, penulis menyoroti adanya ketimpangan pengakuan antara ijazah pendidikan formal dan nonformal. Ijazah pendidikan nonformal, seperti lulusan pesantren, seringkali dianggap kurang kredibel, terutama saat mendaftar di perguruan tinggi negeri.

Baca Juga:  Universitas Terbuka Sosialisasi di Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Nurul Ikhlas, Santri Kian Bersemangat

Padahal, menurut penulis, ilmu yang diperoleh di pendidikan nonformal tidak kalah penting dibandingkan pendidikan formal.

Penulis berharap pemerintah ke depan dapat mewujudkan kesetaraan dalam alokasi dana, kredibilitas ijazah, dan ketersediaan tenaga pendidik yang memadai untuk pendidikan nonformal. Hal ini penting untuk menyambut visi Indonesia Emas 2045.

Baca Juga:  Maulid Nabi, Jangan Jadikan Seremonial Belaka

Tidak boleh ada lagi masyarakat yang buta huruf atau terhambat akses pendidikannya karena biaya mahal. Semoga pendidikan nonformal di Indonesia menjadi lebih baik di masa depan. (*)

Baca Juga:  CoreTax: Apakah Upaya Strategis Meningkatkan Tax Ratio Guna Mencapai Kestabilan Fiskal?

*) Penulis: Abdul Jamil Al Rasyid, lahir di Padang Pariaman, mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau Universitas Andalas.

 

Pages ( 4 of 4 ): 123 4