Ia juga menekankan bahwa produksi dan penggunaan genteng tanah hingga saat ini masih banyak terkonsentrasi di Pulau Jawa.
Sementara di wilayah lain, penggunaan atap non-genteng masih dominan karena faktor distribusi dan kondisi lingkungan.
“Kalau daerah-daerah tertentu misalkan seperti Sumatera saya lihat ya penggunanya sangat terbatas gitu ya,” ujarnya.
Dalam praktik di lapangan, preferensi masyarakat terhadap jenis atap pun beragam. Untuk atap rumah, genteng tanah kerap dipilih karena dinilai lebih sejuk, memiliki nilai estetika, serta tahan lama.
Namun, di kawasan pesisir, daerah industri, dan wilayah dengan akses distribusi terbatas, masyarakat cenderung memilih atap non-genteng seperti seng dan aluminium.
Selain lebih ringan dan mudah dipasang, material tersebut dianggap lebih praktis untuk bangunan dengan kebutuhan konstruksi tertentu.
Acuviarta juga menyoroti aspek ketahanan material. Menurutnya, atap seng memiliki daya tahan terbatas di wilayah pesisir akibat paparan garam, sementara genteng tanah terbukti mampu bertahan hingga puluhan bahkan ratusan tahun.
“Bayangkan untuk rumah-rumah Jawa ada genting yang berusia lebih dari 100 tahun dan masih bagus,” katanya.





