Anak-anak yang lahir dari hubungan kohabitasi pun menghadapi tantangan berlapis. Mereka berisiko mengalami gangguan pertumbuhan, kesehatan, serta perkembangan emosional.
“Anak dapat mengalami kebingungan identitas dan memiliki perasaan tidak diakui karena adanya stigma dan diskriminasi terhadap status ‘anak haram’, bahkan dari anggota keluarga sendiri,” kata Yulinda.
“Hal ini menyulitkan mereka untuk menempatkan diri dalam struktur keluarga dan masyarakat secara keseluruhan,” tuturnya.
Fenomena kumpul kebo mungkin tampak sebagai pilihan personal, tetapi riset menunjukkan dampaknya meluas dan tidak sederhana.
Di balik relasi yang dianggap bebas aturan, ada konsekuensi sosial, hukum, dan kemanusiaan yang tak bisa diabaikan. (cnb)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News





