Ragam

Sejarah dan Delapan Pandangan Tentang Penamaan Hari Arafah

×

Sejarah dan Delapan Pandangan Tentang Penamaan Hari Arafah

Sebarkan artikel ini
Jutaan umat Islam yang melaksanakan ibadah haji berkumpul di padang Arafah
Jutaan umat Islam yang melaksanakan ibadah haji berkumpul di padang Arafah. (foto: istimewa)
Jutaan umat Islam yang melaksanakan ibadah haji berkumpul di padang Arafah
Jutaan umat Islam yang melaksanakan ibadah haji berkumpul di padang Arafah. (foto: istimewa)

Dalam khutbah tersebut, Nabi Muhammad SAW menyampaikan pesan-pesan penting kepada umat Muslim mengenai akhlak, hukum-hukum Islam, persaudaraan, dan pentingnya memelihara hak-hak sesama Muslim.

Hari Arafah juga dianggap sebagai hari yang sangat mulia dan penuh berkah. Umat Muslim yang melaksanakan ibadah haji wajib berada di Arafah pada hari ini.

Baca Juga:  Soal Biaya Haji, Ma'ruf Amin: Masih Tunggu Jumlah Subsidi

Dalam ibadah haji, umat Muslim berdiri di Padang Arafah dari waktu Dzuhur hingga matahari terbenam, berdoa, bertobat, memohon ampunan, dan melaksanakan ibadah-ibadah lainnya.

Baca Juga:  Kabar Baik Buat Jamaah Haji yang Berhak Berangkat Tahun 2020, Simak!

Hari Arafah juga merupakan salah satu dari sepuluh hari terakhir bulan Dzulhijjah yang dikenal sebagai “Ayyamul Tasyrik”. Sepuluh hari terakhir bulan Dzulhijjah ini merupakan waktu yang sangat dianjurkan untuk melakukan ibadah, bersedekah, dan berzikir.

Baca Juga:  Asam Urat Sering Kambuh? Begini Cara Sederhana Mengatasinya

Secara historis dan religius, Hari Arafah memiliki makna yang besar bagi umat Muslim. Selain menjadi bagian integral dari ibadah haji, Hari Arafah juga dianggap sebagai kesempatan untuk memperoleh ampunan, berdoa, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Pages ( 2 of 3 ): 1 2 3