Tak hanya itu, ia menggagas penataan ruang dengan membuka akses pandangan ke alam. Bangunan yang menghalangi panorama laut, hutan, atau sungai direncanakan ditata ulang secara bertahap agar masyarakat dapat menikmati keindahan tanpa biaya.
Untuk mengatasi masalah infrastruktur seperti lampu jalan rusak, Dedi mengusulkan sistem pemantauan terpadu berbasis digital.
Pos layanan ini akan dilengkapi layar kontrol dan melibatkan lintas dinas, termasuk dukungan unit reaksi cepat seperti ambulans dan pemadam kebakaran untuk patroli rutin.
Di sisi lain, ia mengkritik mekanisme pembayaran pajak kendaraan dinas yang dinilai tidak efisien.
Menurutnya, anggaran tersebut hanya berputar di internal pemerintah tanpa manfaat langsung. Ia mendorong agar dana itu dialihkan melalui diskresi untuk pembangunan yang lebih dirasakan masyarakat.
Pertemuan ditutup dengan ajakan kepada seluruh jajaran pemerintah daerah untuk menjaga semangat dan kreativitas dalam meningkatkan pendapatan daerah, sebagai bagian dari upaya mewujudkan visi “Jawa Barat Istimewa”. (trn)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News





