Ia juga menekankan bahwa Situs Pasir Angin tidak bisa dipahami secara terpisah, melainkan sebagai bagian dari lanskap sejarah yang lebih luas, khususnya yang berkaitan dengan Sungai Cianten dan Cisadane.
“Kawasan ini merupakan bagian dari ekosistem peradaban. Sungai menjadi pusat kehidupan, perdagangan, dan interaksi sosial pada masanya,” jelas Fadli.
Salah satu temuan penting dari kawasan Pasir Angin adalah topeng emas, yang saat ini disimpan di fasilitas Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Cibinong. Artefak tersebut dinilai memiliki signifikansi tinggi dalam mengungkap struktur sosial dan budaya masyarakat masa lampau.
Selain tinggalan prasejarah dan klasik, kawasan Pasir Angin juga mencatat sejarah modern. Fadli meninjau Tugu Jepang, penanda peristiwa pertempuran antara pasukan Jepang dan Sekutu pada masa Perang Dunia II.
“Lokasi ini berada di titik strategis yang pada masa lalu memungkinkan pengamatan pergerakan militer. Ini menunjukkan bahwa Pasir Angin memiliki nilai sejarah berlapis hingga abad ke-20,” katanya.





