Selain beras, komoditas lain seperti cabai rawit yang mengalami gagal panen, daging ayam ras, bawang merah, serta emas akibat faktor global turut menyumbang inflasi sejak Februari 2026. Tren kenaikan BBM non-subsidi juga dinilai memperumit tekanan harga.
Acuviarta mengaku khawatir kondisi ini terjadi di tengah meningkatnya angka pemutusan hubungan kerja (PHK) dan belum pulihnya sejumlah sektor ekonomi. Ia mendesak pemerintah mengambil langkah konkret jangka pendek untuk menstabilkan harga.
“Pemerintah harus segera bertindak menstabilkan harga beras dulu. Kemudian pada daging ayam ras, juga pemetaan terkait kawasan produksi cabai rawit,” ujarnya.
Sementara itu, data Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat mencatat inflasi Jawa Barat pada Februari 2026 mencapai 4,71 persen (year on year/yoy), meningkat tajam dibanding Januari 2026 sebesar 3,24 persen. Pada Februari 2025, Jabar justru mengalami deflasi 0,27 persen.
Kepala BPS Jabar, Margaretha Ari Anggorowati, menjelaskan tingginya inflasi yoy Februari 2026 dipengaruhi low base effect akibat diskon tarif listrik pada Februari 2025.





